​​​​​

"Dengan Senyum Kita Taklukan Dunia"

Yayasan Sindrom Cornelia Indonesia

adalah sebuah Foundation atau organisasi nirlaba dengan brand " CdLS Indonesia" yang didedikasikan untuk membantu anak-anak penyintas Cornelia de Lange Syndrome dan keluarganya. CdLS adalah kelainan genetik langka atau sering disebut dengan Rare Disease, yang ditandai dengan berbagai ciri fisik dan perkembangan yang khas pada penyintasnya.

Yuk Mengenal Lebih Dekat CdLS 

Sejarah

Penemuan Awal oleh Dr. Winfried Robert Clemens Brachmann


  • Beliau adalah seorang dokter anak Jerman yang lahir pada tanggal 6 Februari 1888 di Dresden, Jerman, dan meninggal pada tanggal 6 Januari 1969, pada usia 81 tahun, di  Gross Schneen, Jerman.
  • Pengamatan Pertama: Pada tahun 1916, Dr. Winfried Brachmann, pertama kali mengamati dan mendeskripsikan sekelompok anak dengan ciri-ciri fisik yang khas dan gangguan pertumbuhan. Anak-anak ini memiliki wajah yang unik, keterlambatan perkembangan, dan beberapa kelainan fisik lainnya.
  • Deskripsi Awal: Meskipun Dr. Brachmann telah mengamati ciri-ciri khas CdLS, pada saat itu ia belum memberikan nama khusus pada kondisi ini. Ia hanya mendeskripsikan temuannya sebagai suatu sindrom atau kumpulan gejala yang terjadi secara bersamaan.

Penelitian Lanjutan oleh Dr. Cornelia Catharina de Lange

  • Penelitian Mendalam: Sekitar 20 tahun kemudian, pada tahun 1936, Dr. Cornelia Catharina de Lange, seorang dokter anak dari Belanda, melakukan penelitian lebih lanjut mengenai kondisi yang sama seperti yang pernah diamati oleh Dr. Brachmann.
  • Penamaan Sindrom: Berdasarkan hasil penelitiannya yang mendalam, Dr. Cornelia de Lange kemudian memberikan nama pada sindrom ini, yaitu "Cornelia de Lange Syndrome" untuk memperhatikan kontribusinya dalam mengidentifikasi dan mendeskripsikan kondisi tersebut.
  • Deskripsi Lengkap: Dr. de Lange memberikan deskripsi yang lebih lengkap mengenai ciri-ciri fisik, gangguan pertumbuhan, dan perkembangan anak-anak dengan CdLS. Ia juga menyoroti pentingnya diagnosis dini dan penanganan yang tepat untuk meningkatkan kualitas hidup penyintasnya.

Perkembangan Pengetahuan tentang CdLS

  • Penelitian Berkelanjutan: Sejak penemuannya, banyak penelitian telah dilakukan untuk memahami lebih dalam mengenai penyebab, mekanisme, dan cara penanganan CdLS.
  • Identifikasi Genetik: Pada beberapa dekade terakhir, para ilmuwan berhasil mengidentifikasi beberapa gen yang mutasinya dapat menyebabkan CdLS. Penemuan ini membuka jalan bagi pengembangan terapi gen dan pengobatan yang lebih spesifik di masa depan.
  • Peningkatan Kesadaran: Berkat upaya para peneliti, dokter, dan organisasi pasien, kesadaran masyarakat mengenai CdLS semakin meningkat. Hal ini memungkinkan diagnosis yang lebih dini dan akses yang lebih baik terhadap layanan kesehatan bagi penyedia CdLS.


Penemuan Cornelia de Lange Syndrome merupakan hasil kerja keras dan dedikasi para ahli medis selama beberapa dekade. Berkat kontribusi mereka, kami sekarang memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai penyakit langka ini. Meskipun masih banyak yang perlu dipelajari, penemuan & penelitian berkelanjutan terhadap CdLS telah memberikan harapan baru bagi pecinta dan keluarga mereka.

Sindrom Cornelia de Lange


CdLS adalah suatu kondisi genetik langka yang mempengaruhi perkembangan berbagai bagian tubuh. Anak-anak yang lahir dengan CdLS memiliki ciri khas yang cukup unik.


Apa itu CdLS?

CdLS terjadi akibat mutasi pada gen yang berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan sel. Mutasi ini dapat menyebabkan gangguan pada berbagai sistem organ tubuh, sehingga anak penderita CdLS seringkali mengalami berbagai tantangan kesehatan.


Ciri Khas Anak dengan CdLS

Anak-anak dengan CdLS umumnya memiliki ciri-ciri fisik yang khas, meskipun tingkat keparahannya bisa berbeda-beda pada setiap individu.


Beberapa ciri khas yang sering ditemukan antara lain:

  • Tampilan Wajah yang Khas:
    • Alis tebal yang menyatu di tengah
    • Hidung kecil dan berukuran sama
    • Bibir tipis
    • Dagu yang kecil
    • Jarak antara mata yang lebar
    • Bulu mata panjang dan lebat
  • Tumbuh Kembang:
    • Pertumbuhan yang lambat baik sebelum maupun setelah lahir
    • Berat badan lahir rendah
    • Perawakan pendek
    • Keterlambatan perkembangan motorik
  • Tulang dan Sendi:
    • Kelainan pada tangan dan kaki, seperti jari yang pendek dan lengkung
    • Kaki yang kecil dan berbentuk seperti sepatu kuda
  • Organ Dalam:
    • Kelainan jantung
    • Masalah penetapan
    • Masalah pernapasan
  • Perkembangan Kognitif:
    • Keterlambatan perkembangan kognitif
    • Sulit belajar dan berkonsentrasi
    • Masalah bicara dan bahasa
  • Perilaku:
    • Hiperaktif
    • Impulsif
    • Sulit bersosialisasi


Tantangan yang Dihadapi

Anak-anak penderita CdLS seringkali menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan sehari-hari, seperti:

  • Masalah kesehatan: Mereka membutuhkan perawatan medis yang intensif untuk mengatasi berbagai komplikasi yang mungkin timbul.
  • Terapi: Terapi fisik, okupasi, dan wicara sangat penting untuk membantu anak-anak dengan CdLS mencapai potensi maksimal mereka.
  • Pendidikan: Anak-anak dengan CdLS mungkin memerlukan pendidikan khusus atau dukungan tambahan di sekolah.
  • Sosial: Mereka mungkin mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan teman sebaya karena perbedaan yang mereka miliki.


Dukungan untuk Keluarga

Keluarga yang memiliki anak dengan CdLS membutuhkan dukungan yang kuat. Yayasan Cornelia Indonesia dan organisasi kemanusiaan serupa lainnya menyediakan berbagai layanan dan dukungan untuk membantu keluarga dalam menghadapi tantangan ini.

Setiap anak penderita CdLS memiliki keunikan dan tingkat keparahan gejalanya bisa berbeda-beda. Jika Anda mengutip anak Anda memiliki CdLS, segera konsultasikan dengan dokter spesialis anak untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.

CdLS Indonesia

Adalah Rumah Bersama  bagi anak-anak dan keluarga penyintas Cornelia de Lange Syndrome, CdLS adalah salah satu jenis penyakit langka dari 10.000 lebih jenis penyakit langka yang ada didunia ini, dengan prevalansi 1 : 30.000 dari angka kelahiran.


Foundation ini berperan penting dalam:


  • Peningkatan Kesadaran:  Kami aktif dalam menyebarkan informasi tentang CdLS kepada masyarakat luas, termasuk para tenaga medis, agar diagnosis dan penanganan terhadap penyakit ini dapat lebih cepat dan tepat.
  • Dukungan untuk Keluarga: Yayasan ini menjadi tempat berbagi informasi dan pengalaman bagi orang tua yang memiliki anak dengan CdLS. Mereka juga menyediakan berbagai sumber daya dan dukungan emosional untuk membantu keluarga dalam menghadapi tantangan sehari-hari.
  • Advokasi: Yayasan ini berperan sebagai suara bagi penyintas CdLS dan keluarga mereka. Mereka berjuang untuk mendapatkan akses yang lebih baik terhadap layanan kesehatan, pendidikan, dan rehabilitasi.
  • Penelitian: Yayasan ini mendukung penelitian lebih lanjut tentang CdLS agar dapat ditemukan pengobatan yang lebih efektif.


Mengapa Yayasan ini Penting?


CdLS adalah penyakit yang kompleks dan membutuhkan penanganan khusus. Yayasan Sindrom Cornelia Indonesia memberikan dukungan yang sangat berharga bagi anak-anak penyintas dan keluarga mereka. Dengan adanya yayasan ini, diharapkan Kualitas Hidup & Angka Harapan Hidup anak-anak dengan CdLS dapat meningkat dan mereka dapat tumbuh berkembang secara optimal.


Apa yang Bisa Dilakukan?


Anda dapat mendukung Yayasan Sindrom Cornelia Indonesia dengan berbagai cara, seperti:

  • Donasi: Donasi Anda akan sangat membantu dalam menjalankan berbagai program yang diadakan oleh yayasan.
  • Sukarelawan: Anda dapat menjadi sukarelawan untuk membantu berbagai kegiatan yang diadakan oleh yayasan.
  • Penyebaran Informasi: Anda dapat membantu menyebarkan informasi tentang CdLS dan yayasan ini kepada orang-orang di sekitar Anda.


Untuk mengetahui lebih banyak tentang CdLS yuk simak bersama-sama podcast Kementrian Kesehatan Republik Indonesia bersama dr. Cut Nurul Hafifah, Sp. A, Subsp. N.P.M.

Spesialis Anak Subspesialis Nutrisi dan Penyakit Metabolik dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo

 melalui link berikut ini : https://www.youtube.com/live/szhFHWDnU24


Tantangan Kesehatan

  • Pertumbuhan Terhambat : Anak-anak dengan CdLS biasanya memiliki pertumbuhan yang lambat sehingga ukuran tubuh lebih kecil dari anak-anak sebaya mereka.


  • Gangguan Perkembangan :  Adanya Spektrum Autisme terjadi keterlambatan dalam perkembangan fisik dan kognitif, seperti kemampuan bicara, belajar, dan keterampilan sosial.


  • Keterbatasan Intelektual :  Banyak anak dengan CdLS mengalami keterbatasan intelektual dalam berbagai tingkat keparahan.


  • Keterampilan Motorik Terbatas :  Anak-anak CdLS mungkin memiliki keterampilan motorik terbatas, termasuk koordinasi yang buruk dan kesulitan dalam melakukan gerakan halus.


  • Ciri Khas Wajah :  Beberapa fitur wajah yang khas seperti jarak yang pendek antara hidung dan bibir atas, alis yang tebal dan berpotongan, mata yang kecil, dan telinga yang kecil.


  • Kelainan pada Organ Dalam :  CdLS juga dapat menyebabkan gangguan pada organ dalam, seperti jantung, sistem pencernaan, dan sistem reproduksi.


  • Pneumonia : Penyakit bawaan yang mematikan bagi anak dengan CdLS, diperlukan Nebulizer untuk pencegahan pada saat ada gejala batuk dan flu.


  • Masalah Medis Lainnya : Seperti masalah makan dan tidur, gangguan sensorik, serta masalah penglihatan dan pendengaran.




Pengelolaan dan Penanganan Penyintas CdLS

  • Dibutuhkan waktu 8 tahun untuk menegakkan diagnosis dan setidaknya oleh 10 dokter ahli
  • Beberapa tahun terakhir ini ditemukan cara yang lebih praktis dan efisien dengan bantuan aplikasi kedokteran untuk mendiagnosa yaitu FACE2GENE, serta kami dibantu oleh beberapa donasi dari vendor tes genetika seperti :
  • Prodia: CMA (Analisis Mikroarray Kromosom)
  • Asa Ren: WGS (Pengurutan Seluruh Genom)
  • Batik Pelangi bekerja sama dengan GSI LAB melakukan Tes WES (Whole Exome Sequencing)
  • Kemenkes bekerja sama dengan RS. Sarjito - FK UGM melakukan Tes WES
  • Memanfaatkan layanan BPJS dan PBI untuk pemeriksaan kesehatan dan terapi (dengan kebijakan yang berbeda di setiap rumah sakit)
  • Dukungan support system CdLS Indonesia melalui grup whatsapp didalamnya terdapat beberapa dokter dan terapis

Program

    CdLS Indonesia melakukan berbagai program yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup anak-anak dengan Sindrom Cornelia de Lange (CdLS) dan memberikan dukungan kepada keluarga mereka. Program-program ini untuk memenuhi
    Berbagai kebutuhan, mulai dari edukasi, dukungan sosial, hingga advokasi.
    Berikut adalah program kami:
    • Edukasi:

      • Seminar dan Workshop: Mengadakan seminar dan workshop untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, tenaga medis, dan pendidik tentang CdLS.
      • Materi Edukasi: Menyediakan materi pendidikan dalam bentuk buku panduan, leaflet, video dan media sosial yang mudah dipahami oleh orang tua dan masyarakat umum.
      • Kunjungan ke Sekolah & Kampus: Melakukan kunjungan ke sekolah & Kampus untuk memberikan pemahaman kepada akademisi dan siswa tentang CdLS dan cara berinteraksi dengan anak-anak penyintas CdLS.
    • Dukungan Sosial:

      • Grup Pendukung: Membentuk grup pendukung (grup whatsapp) bagi orang tua yang memiliki anak dengan CdLS untuk saling berbagi pengalaman dan informasi.
      • Konseling: Menyediakan layanan konseling bagi orang tua dan anak-anak dengan CdLS untuk membantu mereka mengatasi berbagai tantangan emosi dan psikologis.
      • Kunjungan Rumah: Melakukan kunjungan rumah untuk memberikan dukungan langsung kepada keluarga yang membutuhkan.
    • Advokasi:

      • Lobi: Melakukan advokasi kepada pemerintah dan pembuat kebijakan untuk meningkatkan akses layanan kesehatan, pendidikan, dan rehabilitasi bagi anak-anak dengan CdLS.
      • Kolaborasi dengan Instansi Terkait: Bekerja sama dengan berbagai instansi seperti rumah sakit, sekolah, dan lembaga sosial untuk meningkatkan kualitas layanan bagi penyintas CdLS.
    • Penelitian:

      • Mendukung Penelitian: Memberikan dukungan finansial atau sumber daya lainnya untuk penelitian mengenai CdLS, sehingga dapat ditemukan pengobatan yang lebih efektif.
    • Kegiatan Penggalangan Dana:

      • Penggalangan Dana : Mengadakan berbagai kegiatan penggalangan dana seperti Xtreme Impact & penjualan produk untuk mendukung program-program CdLS Indonesia. 

    Tujuan Umum Program-Program CdLS Indonesia:


    • Meningkatkan Kualitas Hidup & Angka Harapan Hidup yang Tinggi: Membantu anak-anak penyintas CdLS mencapai potensi maksimal mereka melalui berbagai terapi dan intervensi.
    • Memberikan Dukungan Keluarga: Memberikan dukungan emosional dan praktis kepada keluarga yang memiliki anak dengan CdLS.
    • Meningkatkan Kesadaran Masyarakat: Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang CdLS dan pentingnya memberikan dukungan bagi penyintas CdLS agar bisa menjadi masyarkat yang inklusif.
    • Advokasi: Memperjuangkan hak-hak inklusi anak-anak penyintas CdLS dan memastikan mereka mendapatkan akses yang sama terhadap layanan kesehatan, pendidikan, dan kesempatan lainnya.



Pendidik & Dukungan

  • Fisio Terapi bertujuan untuk meningkatkan kekuatan otot, koordinasi, keseimbangan, dan keterampilan motorik kasar.


  • Terapi okupasi membantu anak-anak dengan CdLS untuk mengembangkan keterampilan sehari-hari yang diperlukan untuk mandiri, seperti makan, berpakaian, dan mandi.


  • Terapi Wicara untuk membantu anak-anak dengan CdLS mengembangkan kemampuan berbicara, berkomunikasi, memahami bahasa dan melatih fungsi otot sekitar mulut agar bisa mengunyah.


  • Terapi Perilaku & Pengembang membantu anak CdLS dalam mengatasi tantangan perilaku, mengembangkan keterampilan sosial, dan memahami interaksi sosial yang tepat.


  • Tetapi Medis & Intervensi untuk mengatasi masalah kesehatan yang terkait dengan kondisi mereka, seperti masalah jantung, pencernaan, atau pendengaran.


  • Terapi Psikologi & Dukungan mental psikologis tidak hanya penting bagi anak-anak dengan CdLS tetapi juga untuk keluarga mereka.


Kelompok Dukungan

Beberapa kelompok yang mendukung keberadaan kami :

  • Dokter, perawat, dan terapis
  • SLB, YPAC, Pusat Terapi, Komunitas Difabel dan Relawan Kemanusiaan
  • Perusahaan swasta lokal, perorangan dan komunitas UMKM
  • Xtreme Impact
  • benihbaik.com
  • bukapangan.com
  • Gambaran Brand
  • Media lokal dan pembuat konten
  • Bank Danamon
  • BAZNAS Kota Semarang
  • KADIN  Kota Semarang
  • Klinik Genetika Rumah Sakit Nasional Diponegoro
  • Pemerintah Daerah dan Pusat melalui Kemensos dan Kemenkes
  • World Federation of CdLS Support Groups
  • Cornelia de Lange Syndrome Association (Australasia) Inc (CdLSA)


Melalui pendataan semua kebutuhan anak-anak penyintas CdLS, bantuan yang masuk disalurkan dalam bentuk Nutrisi dan Popok Sekali Pakai sebagai kebutuhan utama mereka dan kebutuhan mendesak lainnya seperti untuk pengobatan, biaya terapi serta untuk pembelian alat bantu kesehatan. 


Alat bantu kesehatan yang  urgent dan sering digunakan penyintas CdLS adalah selang NGT, inkubator bayi, nebulizer, tabung oksigen, suction pump, stroller dll.

"Cornelia de Lange Syndrome adalah salah satu jenis penyakit langka, dari 10.000 jenis lebih jumlah penyakit langka yang ada didunia ini"


Definisi Kondisi Langka

Penyakit disebut langka karena jarang terjadi atau memengaruhi sejumlah kecil orang dalam populasi, dengan definisi bervariasi antar negara (misalnya, < 1 dari 2.000 di Eropa atau < 200.000 di AS). Karakteristik utamanya adalah prevalensi rendah, seringkali disebabkan oleh faktor genetik, dan karena jumlah penyintasnya sedikit, penelitian serta pengembangan obat menjadi sulit dan mahal, membuat banyak pasien kesulitan mendapatkan pengobatan efektif.


Alasan utama penyakit disebut langka:

  • Prevalensi rendah: Hanya memengaruhi sebagian kecil dari populasi umum.
  • Jumlah penyintas sedikit: Meskipun ada ribuan penyakit langka, secara kolektif memengaruhi jutaan orang, tetapi masing-masing penyakit hanya sedikit penyintasnya.
  • Seringkali genetik: Sebagian besar disebabkan oleh mutasi genetik yang diturunkan atau terjadi secara spontan.
  • Tantangan diagnosis: Gejala unik dan beragam seringkali membingungkan dokter, menyebabkan diagnosis yang memakan waktu lama.
  • Tantangan pengobatan: Kurangnya pendanaan dan data medis membuat pengembangan obat (orphan drugs) dan makanan (orphan food) menjadi tidak menguntungkan bagi perusahaan farmasi, sehingga banyak yang belum memiliki obatnya.


Contoh definisi berdasarkan wilayah:

  • Eropa: Kurang dari 1 dari 2.000 orang.
  • Amerika Serikat: Kurang dari 200.000 orang (sekitar 1 dari 1.500).
  • Jepang: Kurang dari 50.000 orang (sekitar 1 dari 2.500).


Menurut Profesor Damayanti Rusli Sjarif (Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia), penyakit disebut langka jika prevalensinya sekitar 1 banding 2.000 populasi atau kurang dari 2.000 pasien dalam populasi tertentu.

Definisi ini sejalan dengan standar internasional, di mana penyakit langka adalah kondisi yang mengancam jiwa atau mengganggu kualitas hidup dan jarang terjadi. Sekitar 50% penyintas penyakit langka di Indonesia adalah anak-anak, dan gejala sering kali muncul sejak dini.


Riset

Cornelia de Lange Syndrome (CdLS) adalah kelainan genetik langka yang memengaruhi berbagai bagian tubuh. Perkembangan pemahaman medis terhadap sindrom ini telah berevolusi dari sekadar pengamatan fisik (fenotipe) menuju pemetaan genetik molekuler yang sangat spesifik.


Berikut adalah periodisasi perkembangan riset CdLS:

1. Periode Penemuan Awal (1916 - 1933)

Pada fase ini, penyakit ini mulai diidentifikasi melalui pengamatan klinis terhadap pasien dengan karakteristik wajah yang serupa dan keterlambatan pertumbuhan.

  • 1916: Dokter Jerman, Winfried Robert Clemens Brachmann, pertama kali mencatat kasus ini. Oleh karena itu, terkadang disebut juga sebagai Sindrom Brachmann-de Lange.
  • 1933: Dokter anak Belanda, Cornelia de Lange, mendeskripsikan dua anak perempuan dengan fitur serupa secara mendetail. Deskripsinya menjadi standar medis primer, sehingga namanya diabadikan sebagai nama sindrom tersebut.


2. Periode Karakterisasi Klinis (1934 - 1990-an)

Fokus riset pada masa ini adalah mendefinisikan spektrum gejala klinis agar diagnosis bisa ditegakkan lebih akurat tanpa bantuan tes DNA (karena teknologi DNA belum memadai).

- Identifikasi Gejala Kunci: Peneliti mulai memetakan ciri khas seperti alis yang menyambung (synophrys), pertumbuhan terhambat, kelainan anggota gerak (limbs), dan gangguan kognitif.

- Pembentukan Organisasi: Berdirinya CdLS Foundation pada tahun 1981 di AS memicu pengumpulan data pasien secara masal untuk riset epidemiologi.


3. Era Terobosan Genetik (2004 - 2012)

Ini adalah masa paling krusial dalam sejarah CdLS, di mana penyebab biologis penyakit ini akhirnya ditemukan.

- 2004: Penemuan gen utama NIPBL pada kromosom 5. Mutasi pada gen ini bertanggung jawab atas sekitar 50-60% kasus CdLS.

- 2006 - 2012: Riset lanjutan menemukan gen-gen lain yang berkaitan dengan kompleks protein cohesin, yaitu SMC1A, SMC3, RAD21, dan HDAC8. Penemuan ini mengukuhkan CdLS sebagai penyakit gangguan fungsional kompleks cohesin (cohesinopathy).


4. Era Presisi dan Konsensus Global (2018 - Sekarang)

Riset saat ini fokus pada standarisasi perawatan dan pemahaman variasi genetik yang sangat luas (spektrum).

- 2018: Publikasi Konsensus Klinis Internasional pertama untuk CdLS di jurnal Nature Reviews Genetics. Ini merupakan panduan global untuk diagnosis dan manajemen pasien.

- Riset Epigenetik: Ilmuwan mulai meneliti bagaimana mutasi ini memengaruhi ekspresi gen lain selama perkembangan janin.

- Terapi Farmakologi: Eksperimen pada model hewan (seperti zebrafish dan tikus) sedang dilakukan untuk mencari obat yang dapat memperbaiki fungsi jalur protein yang rusak.


Referensi Utama:

1. De Lange, C. (1933). Sur un type nouveau de degeneration (typus Amstelodamensis). Archives de Médecine des Enfants.

2. Krantz, I. D., et al. (2004). Cornelia de Lange syndrome is caused by mutations in NIPBL, the human homolog of Drosophila melanogaster Nipped-B. Nature Genetics.

3. Kline, A. D., et al. (2018). Diagnosis and management of Cornelia de Lange syndrome: first international consensus statement. Nature Reviews Genetics.

4. Boyle, M. I., et al. (2015). The clinical spectrum of Cornelia de Lange syndrome. Expert Opinion on Orphan Drugs.

MOU yang telah dilakukan untuk masa depan yang lebih baik bagi anak-anak penyintas CdLS di Indonesia yaitu dengan :


  • Universitas Katolik Soegijapranata  meliputi : penelitian nutrisi, psikolgi anak dan orang tua, pemberdayaan ekonomi orang tua penyintas
  • Asa Ren : penelitian dan tes genetika yang presisi untuk menegakan Diagnosa, mengetahui Obat & Nutrisi yang tepat juga untuk mengetahui penyakit yang bisa muncul di kemudian hari.
  • KND - Komisi Disabilitas Nasional : kolaborasi dalam peningkatan kesadaran publik tentang CdLS, advokasi kebijakan inklusif, pengembangan dan penguatan mekanisme layanan pendukung, riset & data, serta pemberdayaan penyintas CdLS.
  • Miwa Pattern: mengkampanyekan CdLS melalui produk Fashion hasil karya seni penyintas CdLS
  • Universitas Sanata Dharma Yogyakarta : dalam penjajakan kolaborasi penelitian dengan Fakultas Vokasi untuk kebutuhan Elektromedis
  • Laboratorium Prodia : kolaborasi penelitian dan keanggotaan
  • Lion Club : dukungan pemenuhan nutrisi untuk penyintas CdLS


Buku "Anakku CdLS"


Menemukan Makna di Balik Kelangkaan

Buku ini mengisahkan perjalanan hidup Koko Prabu saat menghadapi kenyataan bahwa putranya Oyik terlahir dengan Cornelia de Lange Syndrome (CdLS). CdLS sendiri merupakan kelainan genetik langka yang memengaruhi perkembangan fisik dan kognitif anak sejak dalam kandungan.


Poin Utama dalam Buku:

  • Perjalanan Emosional: Penulis secara jujur membagikan fase "penolakan" hingga "penerimaan". Pembaca diajak merasakan kebingungan orang tua saat menghadapi diagnosa medis yang asing, serta bagaimana mereka berdamai dengan keadaan.
  • Perjuangan Medis: Koko menceritakan tantangan dalam mencari penanganan medis yang tepat di Indonesia, mengingat minimnya informasi dan tenaga ahli yang mendalami sindrom ini pada masa itu.
  • Pesan Inklusi: Buku ini menekankan bahwa anak dengan kebutuhan khusus bukanlah "beban", melainkan anugerah yang membawa warna dan pelajaran hidup yang mendalam tentang kesabaran dan kasih sayang tanpa syarat.
  • Komunitas & Dukungan: Penulis juga menyinggung pentingnya dukungan keluarga dan komunitas bagi para orang tua yang memiliki anak dengan kondisi serupa agar tidak merasa berjuang sendirian.

 

Buku Ini Sangat Menginspirasi

Buku terbitan Elex Media Komputindo ini menjadi literasi yang sangat berharga di Indonesia karena:

  1. Meningkatkan Kesadaran: Memberikan informasi dasar mengenai ciri-ciri dan penanganan CdLS bagi masyarakat awam.
  2. Sumber Kekuatan: Menjadi "teman curhat" digital bagi orang tua hebat lainnya yang sedang berjuang di jalan yang sama.
  3. Gaya Bahasa Ringan: Meskipun topiknya berat secara medis dan emosional, Koko Prabu mengemasnya dengan bahasa yang mengalir dan mudah dipahami.


"Anakku CdLS adalah bukti bahwa cinta orang tua mampu melampaui batasan medis dan fisik."

3 Momen Penting Komunitas CdLS Indonesia

    Cornelia de Lange Syndrome (CdLS) adalah kelainan genetik langka yang memengaruhi perkembangan fisik dan kognitif sejak lahir. Di Indonesia, komunitas penyintas dan orang tua hebat di baliknya terus berjuang untuk meningkatkan literasi publik mengenai kondisi ini.

    Untuk memperkuat solidaritas dan edukasi, ada tiga tanggal krusial yang selalu diperingati oleh komunitas CdLS di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Mari kita kenali lebih dalam makna di balik hari-hari penting tersebut.


    1. CdLS Remembrance Day (12 Februari)

    Mengenang Jejak Kasih dan Perjuangan

    Setiap tanggal 12 Februari, komunitas merayakan CdLS Remembrance Day. Hari ini didedikasikan khusus untuk mengenang para penyintas CdLS yang telah berpulang.

    • Tujuan: Memberikan ruang bagi keluarga untuk saling menguatkan, mengenang memori indah, dan menghargai setiap detik perjuangan yang telah dilalui.
    • Makna: Bagi komunitas di Indonesia, hari ini menjadi pengingat bahwa setiap anak, terlepas dari berapa lama mereka hadir di dunia, telah memberikan dampak luar biasa dan cinta yang tak terhingga bagi sekitarnya.


    2. Rare Disease Day / Hari Penyakit Langka (29 Februari)

    Suara untuk Mereka yang "Langka"

    Penyakit langka seringkali terabaikan karena jumlah kasusnya yang sedikit. Rare Disease Day diperingati setiap tanggal 29 Februari (atau hari terakhir Februari di tahun biasa). CdLS merupakan salah satu dari ribuan penyakit langka yang disuarakan pada hari ini.

    • Fokus Utama: Mendobrak stigma, menuntut akses kesehatan yang lebih inklusif, dan mempercepat diagnosis dini.
    • Gerakan di Indonesia: Komunitas CdLS Indonesia biasanya bergabung dengan koalisi penyakit langka lainnya untuk menyuarakan pentingnya fasilitas medis yang memadai dan ketersediaan obat-obatan yatim (orphan drugs).


    3. CdLS Awareness Day (Sabtu Kedua di Bulan Mei)

    Membangun Kesadaran Global

    Ini adalah "hari raya" utama bagi para penyintas. Diperingati setiap Sabtu pada minggu kedua bulan Mei, CdLS Awareness Day bertujuan untuk mengedukasi masyarakat luas tentang apa itu Cornelia de Lange Syndrome.

    • Identitas Warna: Identik dengan warna ungu, masyarakat diajak untuk memakai atribut ungu sebagai bentuk dukungan.
    • Edukasi Gejala: Momen ini digunakan untuk mengenalkan ciri khas CdLS, seperti hambatan pertumbuhan, fitur wajah yang unik (alis menyambung), hingga kelainan pada anggota gerak (tangan dan kaki).
    • Pesan Utama: "Reaching Out, Changing Lives". Melalui kesadaran yang tinggi, diagnosis bisa dilakukan lebih cepat sehingga intervensi medis dan terapi dapat diberikan secara optimal.


    Mengapa Peringatan Ini Penting?

    Mendukung hari-hari besar ini bukan sekadar perayaan seremonial. Bagi keluarga penyintas di Indonesia, ini adalah upaya untuk:

    1. Menghilangkan Isolasi Sosial: Orang tua merasa tidak sendirian dalam berjuang.
    2. Mendorong Riset: Semakin dikenal sebuah sindrom, semakin besar peluang adanya riset medis yang mendalam.
    3. Inklusi Sosial: Agar anak-anak dengan CdLS mendapatkan hak pendidikan dan sosial yang setara tanpa diskriminasi.


    Mari Peduli!

    Kami, Anda & Kita Semua bisa ikut berpartisipasi dengan menyebarkan informasi ini di media sosial menggunakan tagar #CdLSIndonesia #RareDiseaseDay #AwarenessMatters


Menebar Senyum, Kasih & Harapan untuk Anak-anak Penyintas CdLS


Dampak Positif


Sindrom Cornelia de Lange (CdLS) mungkin masih terdengar asing bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Namun, bagi keluarga dengan anak penyandang CdLS, kehadiran CdLS Indonesia Foundation melalui beberapa akun platform digitalnya telah menjadi mercusuar harapan.


Berikut adalah beberapa aktivitas yang berdampak positif signifikan dari CdLS Indonesia:


1. Meningkatkan Kesadaran Masyarakat (Awareness)

Salah satu dampak paling nyata adalah hilangnya stigma dan meningkatnya pemahaman publik. Melalui kampanye kreatif seperti Extreme Impact (aksi bersepeda lintas kota) yang dilakukan oleh Om Arto Biantoro seorang tokoh “brand di Indonesia” dan beliau juga aktivis kemanusiaan, CdLS Indonesia berhasil menarik perhatian media dan masyarakat luas. Edukasi mengenai ciri fisik dan genetik CdLS membantu masyarakat memahami bahwa kondisi ini bukanlah penyakit menular, melainkan kelainan genetik langka yang membutuhkan empati, bukan simpati semata.

Kolaborasi Kreatif Bersama Tante Mira Hoeng melalui produk fashion Miwa Pattern, untuk CdLS Awareness Day dan pengalangan dana dari hasil karya seni anak-anak penyintas CdLS.

Dan melalui eksposur di platform BenihBaik.com dan potensi dukungan media, Om Andy F. Noya membuat upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap Sindrom Cornelia de Lange dapat tersalurkan lebih luas.


2. Mempercepat Deteksi Dini melalui Teknologi Genomik

CdLS Indonesia tidak hanya bergerak di bidang sosial, tetapi juga merambah ranah sains-medis. Kolaborasi yayasan dengan ASA REN dan beberapa lembaga riset untuk menghadirkan deteksi dini melalui Whole Genome Sequencing (WGS) memberikan dampak luar biasa bagi para orang tua.

Berdampak: Diagnosis yang lebih cepat dan akurat memungkinkan penanganan medis yang lebih tepat sasaran, mengurangi risiko salah diagnosis yang selama ini sering disalahartikan sebagai stunting atau autisme.


3. Ruang Dukungan (Support System) bagi Orang Tua

Mengasuh anak dengan CdLS yang memiliki tantangan fisik dan intelektual yang kompleks tentu tidak mudah. Melalui beberapa akun media sosial, CdLS Indonesia menciptakan komunitas di mana orang tua bisa saling berbagi pengalaman, tips perawatan, hingga dukungan emosional. Kehadiran komunitas ini membuat para orang tua merasa tidak lagi "berjuang sendirian".


4. Advokasi dan Akses Layanan Kesehatan

Kegiatan audiensi dengan Kementrian Sosial, Kementerian Kesehatan, Kantor Staf Presiden, KPAI dan kerja sama dengan berbagai universitas (seperti; Soegijapranata Catholic University, Sanata Dharma) menunjukkan peran aktif yayasan dalam melakukan advokasi. Hal ini berdampak pada terbukanya akses layanan kesehatan yang lebih baik bagi anak-anak CdLS di Indonesia, serta mendorong para ahli (dokter anak, psikolog, ahli gizi) untuk lebih mendalami kasus kelainan langka ini.


5. Pemberdayaan dan Peningkatan Kualitas Hidup

Melalui program-programnya, CdLS Indonesia fokus pada perbaikan kualitas hidup anak-anak CdLS. Mulai dari edukasi tentang terapi perilaku hingga penyediaan alat bantu, setiap kegiatan bertujuan agar anak-anak ini dapat mencapai potensi maksimal mereka meski hidup dengan keterbatasan.

CdLS Indonesia telah bertransformasi dari sekadar komunitas menjadi ekosistem pendukung yang vital. Melalui transparansi dan edukasi di media sosial, membuktikan bahwa dengan dukungan yang tepat, anak-anak dengan penyakit langka tetap memiliki kesempatan untuk hidup lebih baik dan lebih dihargai.


Mari berkolaborasi dan terus dukung perjuangan anak-anak kami penyintas CdLS di Indonesia, dengan mengikuti semua perkembangan kegiatan kami.


Terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak atas semangat, kolaborasi dan dukungannya selama ini.

Salam inklusi & sehat selalu.. 

Silakan hubungi kami 

Untuk Kerjasama, Penelitian & Dukungan bisa melalui Whatsapp atau ke Sekretariat : Jl. Sampangan Baru III/B12, Bendan Ngisor, Semarang,

Jawa Tengah 50233

Mau tanya apa saja soal Sindrom Cornelia de Lange?

Mulai dari Deteksi Dini, Kesehatan, hingga Tumbuh Kembang, kami siap membantu..!