

adalah sebuah Foundation atau organisasi nirlaba dengan brand " CdLS Indonesia" yang didedikasikan untuk membantu anak-anak penyintas Cornelia de Lange Syndrome dan keluarganya. CdLS adalah kelainan genetik langka atau sering disebut dengan Rare Disease, yang ditandai dengan berbagai ciri fisik dan perkembangan yang khas pada penyintasnya.






Penemuan Cornelia de Lange Syndrome merupakan hasil kerja keras dan dedikasi para ahli medis selama beberapa dekade. Berkat kontribusi mereka, kami sekarang memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai penyakit langka ini. Meskipun masih banyak yang perlu dipelajari, penemuan & penelitian berkelanjutan terhadap CdLS telah memberikan harapan baru bagi pecinta dan keluarga mereka.

CdLS adalah suatu kondisi genetik langka yang mempengaruhi perkembangan berbagai bagian tubuh. Anak-anak yang lahir dengan CdLS memiliki ciri khas yang cukup unik.
CdLS terjadi akibat mutasi pada gen yang berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan sel. Mutasi ini dapat menyebabkan gangguan pada berbagai sistem organ tubuh, sehingga anak penderita CdLS seringkali mengalami berbagai tantangan kesehatan.
Anak-anak dengan CdLS umumnya memiliki ciri-ciri fisik yang khas, meskipun tingkat keparahannya bisa berbeda-beda pada setiap individu.
Beberapa ciri khas yang sering ditemukan antara lain:
Anak-anak penderita CdLS seringkali menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan sehari-hari, seperti:
Keluarga yang memiliki anak dengan CdLS membutuhkan dukungan yang kuat. Yayasan Cornelia Indonesia dan organisasi kemanusiaan serupa lainnya menyediakan berbagai layanan dan dukungan untuk membantu keluarga dalam menghadapi tantangan ini.
Setiap anak penderita CdLS memiliki keunikan dan tingkat keparahan gejalanya bisa berbeda-beda. Jika Anda mengutip anak Anda memiliki CdLS, segera konsultasikan dengan dokter spesialis anak untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.

Adalah Rumah Bersama bagi anak-anak dan keluarga penyintas Cornelia de Lange Syndrome, CdLS adalah salah satu jenis penyakit langka dari 10.000 lebih jenis penyakit langka yang ada didunia ini, dengan prevalansi 1 : 30.000 dari angka kelahiran.
Foundation ini berperan penting dalam:
Mengapa Yayasan ini Penting?
CdLS adalah penyakit yang kompleks dan membutuhkan penanganan khusus. Yayasan Sindrom Cornelia Indonesia memberikan dukungan yang sangat berharga bagi anak-anak penyintas dan keluarga mereka. Dengan adanya yayasan ini, diharapkan Kualitas Hidup & Angka Harapan Hidup anak-anak dengan CdLS dapat meningkat dan mereka dapat tumbuh berkembang secara optimal.
Apa yang Bisa Dilakukan?
Anda dapat mendukung Yayasan Sindrom Cornelia Indonesia dengan berbagai cara, seperti:
Untuk mengetahui lebih banyak tentang CdLS yuk simak bersama-sama podcast Kementrian Kesehatan Republik Indonesia bersama dr. Cut Nurul Hafifah, Sp. A, Subsp. N.P.M.
Spesialis Anak Subspesialis Nutrisi dan Penyakit Metabolik dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo
melalui link berikut ini : https://www.youtube.com/live/szhFHWDnU24


Beberapa kelompok yang mendukung keberadaan kami :
Melalui pendataan semua kebutuhan anak-anak penyintas CdLS, bantuan yang masuk disalurkan dalam bentuk Nutrisi dan Popok Sekali Pakai sebagai kebutuhan utama mereka dan kebutuhan mendesak lainnya seperti untuk pengobatan, biaya terapi serta untuk pembelian alat bantu kesehatan.
Alat bantu kesehatan yang urgent dan sering digunakan penyintas CdLS adalah selang NGT, inkubator bayi, nebulizer, tabung oksigen, suction pump, stroller dll.
"Cornelia de Lange Syndrome adalah salah satu jenis penyakit langka, dari 10.000 jenis lebih jumlah penyakit langka yang ada didunia ini"
Definisi Kondisi Langka
Penyakit disebut langka karena jarang terjadi atau memengaruhi sejumlah kecil orang dalam populasi, dengan definisi bervariasi antar negara (misalnya, < 1 dari 2.000 di Eropa atau < 200.000 di AS). Karakteristik utamanya adalah prevalensi rendah, seringkali disebabkan oleh faktor genetik, dan karena jumlah penyintasnya sedikit, penelitian serta pengembangan obat menjadi sulit dan mahal, membuat banyak pasien kesulitan mendapatkan pengobatan efektif.
Alasan utama penyakit disebut langka:
Contoh definisi berdasarkan wilayah:
Menurut Profesor Damayanti Rusli Sjarif (Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia), penyakit disebut langka jika prevalensinya sekitar 1 banding 2.000 populasi atau kurang dari 2.000 pasien dalam populasi tertentu.
Definisi ini sejalan dengan standar internasional, di mana penyakit langka adalah kondisi yang mengancam jiwa atau mengganggu kualitas hidup dan jarang terjadi. Sekitar 50% penyintas penyakit langka di Indonesia adalah anak-anak, dan gejala sering kali muncul sejak dini.
Riset
Cornelia de Lange Syndrome (CdLS) adalah kelainan genetik langka yang memengaruhi berbagai bagian tubuh. Perkembangan pemahaman medis terhadap sindrom ini telah berevolusi dari sekadar pengamatan fisik (fenotipe) menuju pemetaan genetik molekuler yang sangat spesifik.
Berikut adalah periodisasi perkembangan riset CdLS:
1. Periode Penemuan Awal (1916 - 1933)
Pada fase ini, penyakit ini mulai diidentifikasi melalui pengamatan klinis terhadap pasien dengan karakteristik wajah yang serupa dan keterlambatan pertumbuhan.
2. Periode Karakterisasi Klinis (1934 - 1990-an)
Fokus riset pada masa ini adalah mendefinisikan spektrum gejala klinis agar diagnosis bisa ditegakkan lebih akurat tanpa bantuan tes DNA (karena teknologi DNA belum memadai).
- Identifikasi Gejala Kunci: Peneliti mulai memetakan ciri khas seperti alis yang menyambung (synophrys), pertumbuhan terhambat, kelainan anggota gerak (limbs), dan gangguan kognitif.
- Pembentukan Organisasi: Berdirinya CdLS Foundation pada tahun 1981 di AS memicu pengumpulan data pasien secara masal untuk riset epidemiologi.
3. Era Terobosan Genetik (2004 - 2012)
Ini adalah masa paling krusial dalam sejarah CdLS, di mana penyebab biologis penyakit ini akhirnya ditemukan.
- 2004: Penemuan gen utama NIPBL pada kromosom 5. Mutasi pada gen ini bertanggung jawab atas sekitar 50-60% kasus CdLS.
- 2006 - 2012: Riset lanjutan menemukan gen-gen lain yang berkaitan dengan kompleks protein cohesin, yaitu SMC1A, SMC3, RAD21, dan HDAC8. Penemuan ini mengukuhkan CdLS sebagai penyakit gangguan fungsional kompleks cohesin (cohesinopathy).
4. Era Presisi dan Konsensus Global (2018 - Sekarang)
Riset saat ini fokus pada standarisasi perawatan dan pemahaman variasi genetik yang sangat luas (spektrum).
- 2018: Publikasi Konsensus Klinis Internasional pertama untuk CdLS di jurnal Nature Reviews Genetics. Ini merupakan panduan global untuk diagnosis dan manajemen pasien.
- Riset Epigenetik: Ilmuwan mulai meneliti bagaimana mutasi ini memengaruhi ekspresi gen lain selama perkembangan janin.
- Terapi Farmakologi: Eksperimen pada model hewan (seperti zebrafish dan tikus) sedang dilakukan untuk mencari obat yang dapat memperbaiki fungsi jalur protein yang rusak.
Referensi Utama:
1. De Lange, C. (1933). Sur un type nouveau de degeneration (typus Amstelodamensis). Archives de Médecine des Enfants.
2. Krantz, I. D., et al. (2004). Cornelia de Lange syndrome is caused by mutations in NIPBL, the human homolog of Drosophila melanogaster Nipped-B. Nature Genetics.
3. Kline, A. D., et al. (2018). Diagnosis and management of Cornelia de Lange syndrome: first international consensus statement. Nature Reviews Genetics.
4. Boyle, M. I., et al. (2015). The clinical spectrum of Cornelia de Lange syndrome. Expert Opinion on Orphan Drugs.
MOU yang telah dilakukan untuk masa depan yang lebih baik bagi anak-anak penyintas CdLS di Indonesia yaitu dengan :
Buku "Anakku CdLS"
Menemukan Makna di Balik Kelangkaan
Buku ini mengisahkan perjalanan hidup Koko Prabu saat menghadapi kenyataan bahwa putranya Oyik terlahir dengan Cornelia de Lange Syndrome (CdLS). CdLS sendiri merupakan kelainan genetik langka yang memengaruhi perkembangan fisik dan kognitif anak sejak dalam kandungan.
Poin Utama dalam Buku:
Buku Ini Sangat Menginspirasi
Buku terbitan Elex Media Komputindo ini menjadi literasi yang sangat berharga di Indonesia karena:
"Anakku CdLS adalah bukti bahwa cinta orang tua mampu melampaui batasan medis dan fisik."


Untuk memperkuat solidaritas dan edukasi, ada tiga tanggal krusial yang selalu diperingati oleh komunitas CdLS di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Mari kita kenali lebih dalam makna di balik hari-hari penting tersebut.
1. CdLS Remembrance Day (12 Februari)
Mengenang Jejak Kasih dan Perjuangan
Setiap tanggal 12 Februari, komunitas merayakan CdLS Remembrance Day. Hari ini didedikasikan khusus untuk mengenang para penyintas CdLS yang telah berpulang.
2. Rare Disease Day / Hari Penyakit Langka (29 Februari)
Suara untuk Mereka yang "Langka"
Penyakit langka seringkali terabaikan karena jumlah kasusnya yang sedikit. Rare Disease Day diperingati setiap tanggal 29 Februari (atau hari terakhir Februari di tahun biasa). CdLS merupakan salah satu dari ribuan penyakit langka yang disuarakan pada hari ini.
3. CdLS Awareness Day (Sabtu Kedua di Bulan Mei)
Membangun Kesadaran Global
Ini adalah "hari raya" utama bagi para penyintas. Diperingati setiap Sabtu pada minggu kedua bulan Mei, CdLS Awareness Day bertujuan untuk mengedukasi masyarakat luas tentang apa itu Cornelia de Lange Syndrome.
Mengapa Peringatan Ini Penting?
Mendukung hari-hari besar ini bukan sekadar perayaan seremonial. Bagi keluarga penyintas di Indonesia, ini adalah upaya untuk:
Mari Peduli!
Kami, Anda & Kita Semua bisa ikut berpartisipasi dengan menyebarkan informasi ini di media sosial menggunakan tagar #CdLSIndonesia #RareDiseaseDay #AwarenessMatters


Dampak Positif
Sindrom Cornelia de Lange (CdLS) mungkin masih terdengar asing bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Namun, bagi keluarga dengan anak penyandang CdLS, kehadiran CdLS Indonesia Foundation melalui beberapa akun platform digitalnya telah menjadi mercusuar harapan.
Berikut adalah beberapa aktivitas yang berdampak positif signifikan dari CdLS Indonesia:
1. Meningkatkan Kesadaran Masyarakat (Awareness)
Salah satu dampak paling nyata adalah hilangnya stigma dan meningkatnya pemahaman publik. Melalui kampanye kreatif seperti Extreme Impact (aksi bersepeda lintas kota) yang dilakukan oleh Om Arto Biantoro seorang tokoh “brand di Indonesia” dan beliau juga aktivis kemanusiaan, CdLS Indonesia berhasil menarik perhatian media dan masyarakat luas. Edukasi mengenai ciri fisik dan genetik CdLS membantu masyarakat memahami bahwa kondisi ini bukanlah penyakit menular, melainkan kelainan genetik langka yang membutuhkan empati, bukan simpati semata.
Kolaborasi Kreatif Bersama Tante Mira Hoeng melalui produk fashion Miwa Pattern, untuk CdLS Awareness Day dan pengalangan dana dari hasil karya seni anak-anak penyintas CdLS.
Dan melalui eksposur di platform BenihBaik.com dan potensi dukungan media, Om Andy F. Noya membuat upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap Sindrom Cornelia de Lange dapat tersalurkan lebih luas.
2. Mempercepat Deteksi Dini melalui Teknologi Genomik
CdLS Indonesia tidak hanya bergerak di bidang sosial, tetapi juga merambah ranah sains-medis. Kolaborasi yayasan dengan ASA REN dan beberapa lembaga riset untuk menghadirkan deteksi dini melalui Whole Genome Sequencing (WGS) memberikan dampak luar biasa bagi para orang tua.
Berdampak: Diagnosis yang lebih cepat dan akurat memungkinkan penanganan medis yang lebih tepat sasaran, mengurangi risiko salah diagnosis yang selama ini sering disalahartikan sebagai stunting atau autisme.
3. Ruang Dukungan (Support System) bagi Orang Tua
Mengasuh anak dengan CdLS yang memiliki tantangan fisik dan intelektual yang kompleks tentu tidak mudah. Melalui beberapa akun media sosial, CdLS Indonesia menciptakan komunitas di mana orang tua bisa saling berbagi pengalaman, tips perawatan, hingga dukungan emosional. Kehadiran komunitas ini membuat para orang tua merasa tidak lagi "berjuang sendirian".
4. Advokasi dan Akses Layanan Kesehatan
Kegiatan audiensi dengan Kementrian Sosial, Kementerian Kesehatan, Kantor Staf Presiden, KPAI dan kerja sama dengan berbagai universitas (seperti; Soegijapranata Catholic University, Sanata Dharma) menunjukkan peran aktif yayasan dalam melakukan advokasi. Hal ini berdampak pada terbukanya akses layanan kesehatan yang lebih baik bagi anak-anak CdLS di Indonesia, serta mendorong para ahli (dokter anak, psikolog, ahli gizi) untuk lebih mendalami kasus kelainan langka ini.
5. Pemberdayaan dan Peningkatan Kualitas Hidup
Melalui program-programnya, CdLS Indonesia fokus pada perbaikan kualitas hidup anak-anak CdLS. Mulai dari edukasi tentang terapi perilaku hingga penyediaan alat bantu, setiap kegiatan bertujuan agar anak-anak ini dapat mencapai potensi maksimal mereka meski hidup dengan keterbatasan.
CdLS Indonesia telah bertransformasi dari sekadar komunitas menjadi ekosistem pendukung yang vital. Melalui transparansi dan edukasi di media sosial, membuktikan bahwa dengan dukungan yang tepat, anak-anak dengan penyakit langka tetap memiliki kesempatan untuk hidup lebih baik dan lebih dihargai.
Mari berkolaborasi dan terus dukung perjuangan anak-anak kami penyintas CdLS di Indonesia, dengan mengikuti semua perkembangan kegiatan kami.
Terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak atas semangat, kolaborasi dan dukungannya selama ini.
Salam inklusi & sehat selalu..









