​​​​​

"Dengan Senyum Kita Taklukan Dunia"

Yayasan Sindrom Cornelia Indonesia

adalah sebuah Foundation atau organisasi nirlaba dengan brand " CdLS Indonesia" yang didedikasikan untuk membantu anak-anak penyintas Cornelia de Lange Syndrome dan keluarganya. CdLS adalah kelainan genetik langka atau sering disebut dengan Rare Disease, yang ditandai dengan berbagai ciri fisik dan perkembangan yang khas pada penyintasnya.

Yuk Mengenal Lebih Dekat CdLS 

Sejarah

Penemuan Awal oleh Dr. Winfried Robert Clemens Brachmann


  • Beliau adalah seorang dokter anak Jerman yang lahir pada tanggal 6 Februari 1888 di Dresden, Jerman, dan meninggal pada tanggal 6 Januari 1969, pada usia 81 tahun, di  Gross Schneen, Jerman.
  • Pengamatan Pertama: Pada tahun 1916, Dr. Winfried Brachmann, pertama kali mengamati dan mendeskripsikan sekelompok anak dengan ciri-ciri fisik yang khas dan gangguan pertumbuhan. Anak-anak ini memiliki wajah yang unik, keterlambatan perkembangan, dan beberapa kelainan fisik lainnya.
  • Deskripsi Awal: Meskipun Dr. Brachmann telah mengamati ciri-ciri khas CdLS, pada saat itu ia belum memberikan nama khusus pada kondisi ini. Ia hanya mendeskripsikan temuannya sebagai suatu sindrom atau kumpulan gejala yang terjadi secara bersamaan.

Penelitian Lanjutan oleh Dr. Cornelia Catharina de Lange

  • Penelitian Mendalam: Sekitar 20 tahun kemudian, pada tahun 1936, Dr. Cornelia Catharina de Lange, seorang dokter anak dari Belanda, melakukan penelitian lebih lanjut mengenai kondisi yang sama seperti yang pernah diamati oleh Dr. Brachmann.
  • Penamaan Sindrom: Berdasarkan hasil penelitiannya yang mendalam, Dr. Cornelia de Lange kemudian memberikan nama pada sindrom ini, yaitu "Cornelia de Lange Syndrome" untuk memperhatikan kontribusinya dalam mengidentifikasi dan mendeskripsikan kondisi tersebut.
  • Deskripsi Lengkap: Dr. de Lange memberikan deskripsi yang lebih lengkap mengenai ciri-ciri fisik, gangguan pertumbuhan, dan perkembangan anak-anak dengan CdLS. Ia juga menyoroti pentingnya diagnosis dini dan penanganan yang tepat untuk meningkatkan kualitas hidup penyintasnya.

Perkembangan Pengetahuan tentang CdLS

  • Penelitian Berkelanjutan: Sejak penemuannya, banyak penelitian telah dilakukan untuk memahami lebih dalam mengenai penyebab, mekanisme, dan cara penanganan CdLS.
  • Identifikasi Genetik: Pada beberapa dekade terakhir, para ilmuwan berhasil mengidentifikasi beberapa gen yang mutasinya dapat menyebabkan CdLS. Penemuan ini membuka jalan bagi pengembangan terapi gen dan pengobatan yang lebih spesifik di masa depan.
  • Peningkatan Kesadaran: Berkat upaya para peneliti, dokter, dan organisasi pasien, kesadaran masyarakat mengenai CdLS semakin meningkat. Hal ini memungkinkan diagnosis yang lebih dini dan akses yang lebih baik terhadap layanan kesehatan bagi penyedia CdLS.


Penemuan Cornelia de Lange Syndrome merupakan hasil kerja keras dan dedikasi para ahli medis selama beberapa dekade. Berkat kontribusi mereka, kami sekarang memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai penyakit langka ini. Meskipun masih banyak yang perlu dipelajari, penemuan & penelitian berkelanjutan terhadap CdLS telah memberikan harapan baru bagi pecinta dan keluarga mereka.

Sindrom Cornelia de Lange


CdLS adalah suatu kondisi genetik langka yang mempengaruhi perkembangan berbagai bagian tubuh. Anak-anak yang lahir dengan CdLS memiliki ciri khas yang cukup unik.


Apa itu CdLS?

CdLS terjadi akibat mutasi pada gen yang berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan sel. Mutasi ini dapat menyebabkan gangguan pada berbagai sistem organ tubuh, sehingga anak penderita CdLS seringkali mengalami berbagai tantangan kesehatan.


Ciri Khas Anak dengan CdLS

Anak-anak dengan CdLS umumnya memiliki ciri-ciri fisik yang khas, meskipun tingkat keparahannya bisa berbeda-beda pada setiap individu.


Beberapa ciri khas yang sering ditemukan antara lain:

  • Tampilan Wajah yang Khas:
    • Alis tebal yang menyatu di tengah
    • Hidung kecil dan berukuran sama
    • Bibir tipis
    • Dagu yang kecil
    • Jarak antara mata yang lebar
    • Bulu mata panjang dan lebat
  • Tumbuh Kembang:
    • Pertumbuhan yang lambat baik sebelum maupun setelah lahir
    • Berat badan lahir rendah
    • Perawakan pendek
    • Keterlambatan perkembangan motorik
  • Tulang dan Sendi:
    • Kelainan pada tangan dan kaki, seperti jari yang pendek dan lengkung
    • Kaki yang kecil dan berbentuk seperti sepatu kuda
  • Organ Dalam:
    • Kelainan jantung
    • Masalah penetapan
    • Masalah pernapasan
  • Perkembangan Kognitif:
    • Keterlambatan perkembangan kognitif
    • Sulit belajar dan berkonsentrasi
    • Masalah bicara dan bahasa
  • Perilaku:
    • Hiperaktif
    • Impulsif
    • Sulit bersosialisasi


Tantangan yang Dihadapi

Anak-anak penderita CdLS seringkali menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan sehari-hari, seperti:

  • Masalah kesehatan: Mereka membutuhkan perawatan medis yang intensif untuk mengatasi berbagai komplikasi yang mungkin timbul.
  • Terapi: Terapi fisik, okupasi, dan wicara sangat penting untuk membantu anak-anak dengan CdLS mencapai potensi maksimal mereka.
  • Pendidikan: Anak-anak dengan CdLS mungkin memerlukan pendidikan khusus atau dukungan tambahan di sekolah.
  • Sosial: Mereka mungkin mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan teman sebaya karena perbedaan yang mereka miliki.


Dukungan untuk Keluarga

Keluarga yang memiliki anak dengan CdLS membutuhkan dukungan yang kuat. Yayasan Cornelia Indonesia dan organisasi kemanusiaan serupa lainnya menyediakan berbagai layanan dan dukungan untuk membantu keluarga dalam menghadapi tantangan ini.

Setiap anak penderita CdLS memiliki keunikan dan tingkat keparahan gejalanya bisa berbeda-beda. Jika Anda mengutip anak Anda memiliki CdLS, segera konsultasikan dengan dokter spesialis anak untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.

CdLS Indonesia

Adalah Rumah Bersama  bagi anak-anak dan keluarga penyintas Cornelia de Lange Syndrome, CdLS adalah salah satu jenis penyakit langka dari 10.000 lebih jenis penyakit langka yang ada didunia ini, dengan prevalansi 1 : 30.000 dari angka kelahiran.


Foundation ini berperan penting dalam:


  • Peningkatan Kesadaran:  Kami aktif dalam menyebarkan informasi tentang CdLS kepada masyarakat luas, termasuk para tenaga medis, agar diagnosis dan penanganan terhadap penyakit ini dapat lebih cepat dan tepat.
  • Dukungan untuk Keluarga: Yayasan ini menjadi tempat berbagi informasi dan pengalaman bagi orang tua yang memiliki anak dengan CdLS. Mereka juga menyediakan berbagai sumber daya dan dukungan emosional untuk membantu keluarga dalam menghadapi tantangan sehari-hari.
  • Advokasi: Yayasan ini berperan sebagai suara bagi penyintas CdLS dan keluarga mereka. Mereka berjuang untuk mendapatkan akses yang lebih baik terhadap layanan kesehatan, pendidikan, dan rehabilitasi.
  • Penelitian: Yayasan ini mendukung penelitian lebih lanjut tentang CdLS agar dapat ditemukan pengobatan yang lebih efektif.


Mengapa Yayasan ini Penting?


CdLS adalah penyakit yang kompleks dan membutuhkan penanganan khusus. Yayasan Sindrom Cornelia Indonesia memberikan dukungan yang sangat berharga bagi anak-anak penyintas dan keluarga mereka. Dengan adanya yayasan ini, diharapkan Kualitas Hidup & Angka Harapan Hidup anak-anak dengan CdLS dapat meningkat dan mereka dapat tumbuh berkembang secara optimal.


Apa yang Bisa Dilakukan?


Anda dapat mendukung Yayasan Sindrom Cornelia Indonesia dengan berbagai cara, seperti:

  • Donasi: Donasi Anda akan sangat membantu dalam menjalankan berbagai program yang diadakan oleh yayasan.
  • Sukarelawan: Anda dapat menjadi sukarelawan untuk membantu berbagai kegiatan yang diadakan oleh yayasan.
  • Penyebaran Informasi: Anda dapat membantu menyebarkan informasi tentang CdLS dan yayasan ini kepada orang-orang di sekitar Anda.


Untuk mengetahui lebih banyak tentang CdLS yuk simak bersama-sama podcast Kementrian Kesehatan Republik Indonesia bersama dr. Cut Nurul Hafifah, Sp. A, Subsp. N.P.M.

Spesialis Anak Subspesialis Nutrisi dan Penyakit Metabolik dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo

 melalui link berikut ini : https://www.youtube.com/live/szhFHWDnU24


Tantangan Kesehatan

  • Pertumbuhan Terhambat : Anak-anak dengan CdLS biasanya memiliki pertumbuhan yang lambat sehingga ukuran tubuh lebih kecil dari anak-anak sebaya mereka.


  • Gangguan Perkembangan :  Adanya Spektrum Autisme terjadi keterlambatan dalam perkembangan fisik dan kognitif, seperti kemampuan bicara, belajar, dan keterampilan sosial.


  • Keterbatasan Intelektual :  Banyak anak dengan CdLS mengalami keterbatasan intelektual dalam berbagai tingkat keparahan.


  • Keterampilan Motorik Terbatas :  Anak-anak CdLS mungkin memiliki keterampilan motorik terbatas, termasuk koordinasi yang buruk dan kesulitan dalam melakukan gerakan halus.


  • Ciri Khas Wajah :  Beberapa fitur wajah yang khas seperti jarak yang pendek antara hidung dan bibir atas, alis yang tebal dan berpotongan, mata yang kecil, dan telinga yang kecil.


  • Kelainan pada Organ Dalam :  CdLS juga dapat menyebabkan gangguan pada organ dalam, seperti jantung, sistem pencernaan, dan sistem reproduksi.


  • Pneumonia : Penyakit bawaan yang mematikan bagi anak dengan CdLS, diperlukan Nebulizer untuk pencegahan pada saat ada gejala batuk dan flu.


  • Masalah Medis Lainnya : Seperti masalah makan dan tidur, gangguan sensorik, serta masalah penglihatan dan pendengaran.




Pengelolaan dan Penanganan Penyintas CdLS

  • Dibutuhkan waktu 8 tahun untuk menegakkan diagnosis dan setidaknya oleh 10 dokter ahli
  • Beberapa tahun terakhir ini ditemukan cara yang lebih praktis dan efisien dengan bantuan aplikasi kedokteran untuk mendiagnosa yaitu FACE2GENE, serta kami dibantu oleh beberapa donasi dari vendor tes genetika seperti :
  • Prodia: CMA (Analisis Mikroarray Kromosom)
  • Asa Ren: WGS (Pengurutan Seluruh Genom)
  • Batik Pelangi bekerja sama dengan GSI LAB melakukan Tes WES (Whole Exome Sequencing)
  • Kemenkes bekerja sama dengan RS. Sarjito - FK UGM melakukan Tes WES
  • Memanfaatkan layanan BPJS dan PBI untuk pemeriksaan kesehatan dan terapi (dengan kebijakan yang berbeda di setiap rumah sakit)
  • Dukungan support system CdLS Indonesia melalui grup whatsapp didalamnya terdapat beberapa dokter dan terapis

Program

    CdLS Indonesia melakukan berbagai program yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup anak-anak dengan Sindrom Cornelia de Lange (CdLS) dan memberikan dukungan kepada keluarga mereka. Program-program ini untuk memenuhi
    Berbagai kebutuhan, mulai dari edukasi, dukungan sosial, hingga advokasi.
    Berikut adalah program kami:
    • Edukasi:

      • Seminar dan Workshop: Mengadakan seminar dan workshop untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, tenaga medis, dan pendidik tentang CdLS.
      • Materi Edukasi: Menyediakan materi pendidikan dalam bentuk buku panduan, leaflet, video dan media sosial yang mudah dipahami oleh orang tua dan masyarakat umum.
      • Kunjungan ke Sekolah & Kampus: Melakukan kunjungan ke sekolah & Kampus untuk memberikan pemahaman kepada akademisi dan siswa tentang CdLS dan cara berinteraksi dengan anak-anak penyintas CdLS.
    • Dukungan Sosial:

      • Grup Pendukung: Membentuk grup pendukung (grup whatsapp) bagi orang tua yang memiliki anak dengan CdLS untuk saling berbagi pengalaman dan informasi.
      • Konseling: Menyediakan layanan konseling bagi orang tua dan anak-anak dengan CdLS untuk membantu mereka mengatasi berbagai tantangan emosi dan psikologis.
      • Kunjungan Rumah: Melakukan kunjungan rumah untuk memberikan dukungan langsung kepada keluarga yang membutuhkan.
    • Advokasi:

      • Lobi: Melakukan advokasi kepada pemerintah dan pembuat kebijakan untuk meningkatkan akses layanan kesehatan, pendidikan, dan rehabilitasi bagi anak-anak dengan CdLS.
      • Kolaborasi dengan Instansi Terkait: Bekerja sama dengan berbagai instansi seperti rumah sakit, sekolah, dan lembaga sosial untuk meningkatkan kualitas layanan bagi penyintas CdLS.
    • Penelitian:

      • Mendukung Penelitian: Memberikan dukungan finansial atau sumber daya lainnya untuk penelitian mengenai CdLS, sehingga dapat ditemukan pengobatan yang lebih efektif.
    • Kegiatan Penggalangan Dana:

      • Penggalangan Dana : Mengadakan berbagai kegiatan penggalangan dana seperti Xtreme Impact & penjualan produk untuk mendukung program-program CdLS Indonesia. 

    Tujuan Umum Program-Program CdLS Indonesia:


    • Meningkatkan Kualitas Hidup & Angka Harapan Hidup yang Tinggi: Membantu anak-anak penyintas CdLS mencapai potensi maksimal mereka melalui berbagai terapi dan intervensi.
    • Memberikan Dukungan Keluarga: Memberikan dukungan emosional dan praktis kepada keluarga yang memiliki anak dengan CdLS.
    • Meningkatkan Kesadaran Masyarakat: Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang CdLS dan pentingnya memberikan dukungan bagi penyintas CdLS agar bisa menjadi masyarkat yang inklusif.
    • Advokasi: Memperjuangkan hak-hak inklusi anak-anak penyintas CdLS dan memastikan mereka mendapatkan akses yang sama terhadap layanan kesehatan, pendidikan, dan kesempatan lainnya.



Kenapa Penyakit Langka Ini Bisa Terjadi di Keluarga Kami? Apa Salah Kami..

Yuk Ayah-Bunda Kita Belajar Apa Itu Mutasi Spontan Yang 80% Menjadi Penyebab Utama Penyakit Langka


Bayangkan DNA itu seperti BUKU RESEP KUE ANDALAN di dapur

Di dalam Inti Sel (yang di gambar bawah, warna ungu), tersimpan Buku Resep super penting. Isinya adalah Urutan DNA - Sebelum Mutasi, yaitu resep asli kue yang sudah benar.


Resep itu ditulis dengan huruf-huruf: T, A, G, C. Contoh: T-T-G itu artinya "Tepung - Telur - Gula".

Nah, Mutasi adalah ketika ada yang berubah dari resep asli itu. Bukan karena ibunya salah masak, bukan karena ayahnya salah beli bahan. Kadang saat buku resep itu disalin, tangannya terpeleset.


Di gambar ada 3 kejadian yang bisa terjadi:

A. Dihapus (Deleted) - Bahan di coret

Analogi: Di resep tertulis "Ambil A-T, T-A, C-G". Tiba-tiba 3 bahan itu kecoret dan Dihapus!

Di Kue: Harusnya pakai 3 bahan itu, tapi jadi bolong. Kuenya jadi bantat atau bentuknya lain.

Di Anak: Satu bagian instruksi tubuh hilang, jadi pertumbuhannya jadi berbeda. Itulah yang terjadi pada sebagian besar kasus CdLS dan 10.000 lebih penyakit genetik lainnya yang ada didunia ini.


B. Disisipkan (Inserted) - Ada bahan nyelip

Analogi: Resep asli sudah pas, eh tiba-tiba ada yang menyelipkan 3 bahan baru warna kuning: T-A-C.

Di Kue: Tiba-tiba resep jadi "Masukkan T, A, C" padahal tidak ada di resep asli. Adonannya jadi kelebihan bahan.

Di Anak: Ada instruksi tambahan yang menyela, jadi tubuh bingung bacanya.


C. Diganti (Substituted) - Salah tulis bahan

Analogi: Di resep asli tertulis bahan warna pink, tapi tertukar jadi bahan warna hijau. Misalnya harusnya "Gula" jadi "Garam".

Di Kue: Harusnya manis, jadi asin. Satu huruf salah, rasa se-kue berubah.

Di Anak: Satu huruf DNA salah tulis, tapi dampaknya bisa besar untuk seluruh tubuh.


Jawaban untuk "Apa salah saya? Apa salah pasangan saya?"

Tidak ada yang salah, Ayah-Bunda...


Kalau ibu salah takaran garam, itu kesalahan memasak. Tapi mutasi DNA ini bukan seperti itu.

Ini seperti salah ketik saat buku resep sedang di-fotokopi. Mesin fotokopinya yang terpeleset sepersekian detik. Buku resep asli Ayah dan Ibu sebenarnya baik-baik saja dan lengkap. Tapi pada saat membuat salinan baru untuk si kecil, terjadi perubahan kecil yang tidak disengaja.

Itulah kenapa disebut mutasi de novo (baru). Bukan diturunkan, bukan karena makanan, bukan karena perbuatan, dan bukan karena doa yang kurang.


Tugas kita sekarang bukan mencari siapa yang salah menulis resep, tapi bagaimana kita tetap membuat kue terbaik dengan resep unik yang sudah dititipkan pada kita..


"Anda Tidak Sendiri, Mari Bergandeng Tangan Menemani Langkah Buah Hati"

Apakah Penyintas CdLS bisa disebut Difabel?

Ya, penyintas Cornelia de Lange Syndrome (CdLS) bisa disebut sebagai difabel.

Difable atau dalam bahasa Indonesia ditulis dan dibaca Difabel adalah istilah yang sangat humanis pada saat ini, singkatan dari ”Different Ability People” yang mempunyai makna positif yaitu orang dengan kemampuan yang berbeda. Dibanding dengan istilah lainnya yang pernah kita kenal seperti; "disabled, cacat, ketunaan, defect, handicapped, disability atau disabilitas" yang semuanya mempunyai stigma dan arti yang negatif yaitu ketidakmampuan.


Sebagian besar penyintas Cornelia de Lange Syndrome (CdLS) dapat dikategorikan sebagai difabel, tetapi tidak semua penyintas CdLS memiliki tingkat difabelitas yang sama. Hal ini bergantung pada tingkat keparahan gejala yang dialami masing-masing individu.


Secara hukum di Indonesia, penyintas CdLS yang mengalami hambatan jangka panjang dalam fungsi fisik, intelektual, mental, dan atau sensorik termasuk dalam kategori penyandang disabilitas sebagaimana diatur dalam UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.


*Istilah "difabel" mulai dicetuskan sebagai identitas oleh Sapto Nugroho, seorang difabel yang juga aktivis kemanusiaan asal Solo, bersama Mansour Fakih, seorang peneliti sekaligus tokoh HAM yang berkiprah di dunia internasional. Pada tahun 1995, mereka mengusulkan penggunaan resmi istilah ini melalui pengajuan Rancangan Undang-Undang (RUU) Difabel.


Mengapa penyintas CdLS termasuk difabel?


CdLS adalah kelainan genetik langka yang dapat menyebabkan berbagai hambatan perkembangan, antara lain:


  • Difabel intelektual ringan hingga berat.
  • Keterlambatan perkembangan.
  • Gangguan bicara dan komunikasi.
  • Gangguan motorik halus dan kasar.
  • Kelainan anggota gerak (tangan, lengan, atau kaki).
  • Gangguan pendengaran dan/atau penglihatan.
  • Kesulitan makan dan gangguan pertumbuhan.
  • Gangguan perilaku, termasuk karakteristik yang menyerupai spektrum autisme pada sebagian penyintas.
  • Penyakit penyerta seperti kelainan jantung, saluran cerna, atau epilepsi.


Karena berbagai kondisi tersebut sering muncul secara bersamaan, banyak penyintas CdLS mengalami difabelitas ganda (multiple disabilities) atau difabel kompleks.


Namun tidak semua penyintas CdLS sama CdLS memiliki spektrum yang luas. Ada penyintas yang:

  • mampu berjalan (mampu latih), bersekolah (mampu didik), dan berkomunikasi dengan bantuan minimal;
  • membutuhkan terapi rutin untuk mendukung perkembangan;
  • memerlukan pendampingan penuh sepanjang hidup karena mengalami hambatan yang lebih berat (mampu rawat).


Oleh karena itu, pendekatan yang tepat adalah melihat kebutuhan dan kemampuan setiap individu, bukan hanya diagnosisnya.



Dalam konteks advokasi

Penyintas CdLS dapat diposisikan sebagai kelompok yang memiliki dua karakteristik sekaligus, yaitu:

1. Penyintas penyakit langka (rare disease).

2. Difabel, apabila kondisi CdLS menyebabkan hambatan jangka panjang dalam aktivitas sehari-hari dan partisipasi sosial.


Pendekatan ganda ini penting karena membuka akses advokasi ke dua ranah kebijakan:

1. Kebijakan penyakit langka, seperti registri nasional, diagnosis dini, pemeriksaan genetik, riset, dan akses terapi.

2. Kebijakan difabelitas, seperti pendidikan inklusif, alat bantu, rehabilitasi, bantuan sosial, perlindungan hukum, kesempatan kerja, dan aksesibilitas.


Jadi..

"Cornelia de Lange Syndrome bukan hanya penyakit genetik langka, tetapi juga merupakan kondisi yang pada sebagian besar penyintas menyebabkan difabelitas ganda dan kompleks. Oleh karena itu, penyintas CdLS berhak memperoleh perlindungan sebagai penyintas penyakit langka sekaligus sebagai difabel, sehingga mendapatkan akses yang setara terhadap layanan kesehatan, pendidikan, rehabilitasi, perlindungan sosial, dan pemenuhan hak asasi manusia."

Anak Saya Memiliki Gejala Seperti Ini, Apa yang Harus Saya Lakukan Pertama Kali?

Langkah pertama yang harus Anda lakukan jika anak Anda menunjukkan gejala Cornelia de Lange Syndrome (CdLS) atau jenis penyakit langka lainnya adalah segera berkonsultasi dengan dokter spesialis anak (konsultan tumbuh kembang) atau dokter spesialis genetik untuk mendapatkan diagnosis yang pasti. Diagnosis dini sangat penting agar anak bisa mendapatkan intervensi medis dan terapi sedini mungkin.


Berikut adalah panduan langkah awal yang perlu Anda lakukan secara terstruktur:


1. Konsultasi dan Diagnosis Medis

  • Temui Dokter Ahli: Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh—terutama melihat ciri khas seperti alis yang menyambung, bibir atas melengkung, pertumbuhan lambat, dan kelainan pada tangan atau lengan.
  • Tes Genetik: Dokter biasanya akan merekomendasikan tes darah atau tes genetik untuk memastikan adanya mutasi genetik yang menyebabkan CdLS.
  • Pemeriksaan Penunjang: Karena CdLS memengaruhi banyak organ, dokter mungkin akan menyarankan pemeriksaan jantung, ginjal, mata, pendengaran, dan saluran pencernaan (seperti GERD atau masalah usus).


Anda dapat berkonsultasi dengan beberapa pakar di bidang penyakit genetik, di antaranya:


1. Prof. DR. Sultana Muhammad Hussein Faradz, P.hD, Med. Genetics adalah profesor di bidang genetika medik yang berfokus pada penanganan anak-anak dengan disabilitas intelektual dan kerancuan kelamin. Saat ini, beliau berpraktik di SMC RS Telogorejo (Semarang, Jawa Tengah) serta aktif sebagai Konselor Genetika di Laboratorium Klinik Prodia (Jl. Kramat Raya, Jakarta) dan RS YARSI (Cempaka Putih, Jakarta), untuk membuat janji dan konsultasi dengan Profesor silahkan hubungi kami melalui kontak di website ini.


2. dr. Cut Nurul Hafifah, Sp.A, Subsp.N.P.M.(K) adalah seorang Dokter Spesialis Anak (Sp.A) yang memiliki subspesialisasi di bidang Nutrisi dan Penyakit Metabolik. Beliau dikenal sangat kompeten dalam menangani masalah tumbuh kembang anak, gizi, kelainan metabolisme bawaan, dan pencegahan obesitas. Beliau praktik di :

  • RS Pondok Indah – Pondok Indah (Jakarta Selatan)
  • RSIA Sammarie Wijaya (Jakarta Selatan)
  • RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) (Jakarta Pusat)


3. Dr. dr. Agustini Utari, M.Si.Med., Sp.A(K), dr. Farmaditya Eka Putra, M.Si.Med., Ph.D, dan Dr. dr. Nydia Rena Benita Sihombing, M.Si.Med.

Beliau semua praktik di Klinik Genetika di Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSND) Universitas Diponegoro (Undip) adalah fasilitas layanan kesehatan khusus yang menyediakan konsultasi, deteksi dini, dan penanganan untuk berbagai penyakit atau kelainan genetik. Klinik ini juga menjadi pusat unggulan yang mendukung fungsi RSND sebagai rumah sakit pendidikan dan rujukan nasional. RSND berlokasi di Komplek Universitas Diponegoro, Tembalang, Semarang, Jawa Tengah.


"Untuk menegakkan diagnosis yang tepat terhadap penyakit langka, kini dunia medis telah didukung oleh inovasi pemeriksaan genetik mutakhir seperti Whole Exome Sequencing (WES) yang tersedia di laboratorium rujukan seperti ASA REN di Jakarta dan Laboratorium Prodia yang ada diseluruh Indonesia."


2. Memulai Intervensi dan Terapi Dini

Walaupun belum ada obat yang dapat menyembuhkan kelainan genetik ini, terapi yang tepat secara berkelanjutan dapat membantu anak mencapai kemandirian dan kualitas hidup yang optimal. Beberapa terapi yang umum meliputi:

  • Terapi Fisik (Fisioterapi): Untuk mengembangkan kekuatan otot dan kemampuan motorik anak.
  • Terapi Okupasi: Untuk melatih keterampilan dasar anak melakukan aktivitas sehari-hari.
  • Terapi Wicara: Untuk membantu kemampuan komunikasi anak. Penggunaan bahasa isyarat juga sering kali dianjurkan.


Untuk mendapatkan penanganan terapi yang tepat, kita bisa berkonsultasi dengan beberapa ahli Fisio Terapi berikut:


1. Dameria Sitompul, S.Tr.Ftr., Ftr., M.M. C.E., C.BHC., C.TM., C.HL. adalah seorang fisioterapis profesional, dosen, praktisi kesehatan, dan clinical behavior educator asal Indonesia yang berfokus pada tumbuh kembang anak. Beliau memiliki spesialisasi dan keahlian mendalam dalam menangani Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) serta terapi perkembangan bayi.

Untuk berkonsultasi dengan Ibu Dame, silahkan hubungi kontak whatsapp kami yang tertera di web kami ini.


2. Kardi Marthani, Ftr adalah seorang fisioterapis yang aktif dalam kepengurusan organisasi profesi di wilayah Solo (Surakarta) dan sekitarnya. Beliau pernah memegang jabatan sebagai Ketua IFI (Ikatan Fisioterapi Indonesia) Cabang Surakarta dan saat ini menjabat sebagai Ketua Bidang Pengabdian Masyarakat (Pengabmas) & Dana Usaha (Danus) untuk Perkumpulan Fisioterapi Akademisi Indonesia (PFAI) Solo periode 2023-2027. Praktik & Edukasi: Sebagai fisioterapis profesional, beliau sering terlibat dalam kegiatan edukasi kesehatan gerak tubuh dan praktik klinis.


Atau kita bisa datang dan langsung berkonsultasi di YPAC Solo, Jl. Slamet Riyadi 364, Solo adalah pusat rehabilitasi, pendidikan, dan terapi terpadu yang didirikan pada tahun 1953 oleh Prof. Dr. Soeharso. Sebagai pelopor rehabilitasi anak difabel di Indonesia, YPAC Surakarta berfokus untuk memberikan layanan komprehensif agar anak-anak difabel dapat tumbuh mandiri dan mengembangkan potensinya melalui layanan terapi, medis, ketrampilan dan pendidikan.


3. Edukasi Diri Mengenai Kondisi Anak

Pelajari karakteristik dan kebutuhan khusus anak dengan CdLS. Pastikan Anda memantau pertumbuhannya secara rutin menggunakan kurva tumbuh kembang khusus. Anda bisa membaca pedoman perawatan dari lembaga terpercaya seperti Yayasan Sindrom Cornelia de Lange baik yang ada di dalam negeri maupun yang diluar negeri untuk mempelajari lebih lanjut tentang pengelolaan gejala dan kebutuhan nutrisi anak.


4. Bergabung dengan Komunitas Pendukung

Anda tidak sendirian menghadapi kondisi ini. Dukungan dari keluarga dan orang tua lain yang memiliki anak dengan kondisi serupa sangat berharga:

Carilah grup atau komunitas orang tua dengan "anak berkebutuhan khusus, komunitas penyakit langka atau bergabunglah di komunitas CdLS Indonesia", di komunitas kami ini, Anda bisa bertukar informasi mengenai perawatan sehari-hari, edukasi, dan mendapatkan dukungan moral melalui Whatsapp Grup CdLS Family atau hubungi kami melalui beberapa Sosial Media kami : "CdLS Indonesia".


Kehadiran Anda sangat berarti bagi kita semua..


Tetaplah sabar, semangat dan konsisten dalam mendampingi tumbuh kembang anak, karena setiap anak dengan CdLS memiliki keunikan dan kapasitasnya masing-masing untuk berprestasi. Yakinlah Anda tidak sendiri, jadilah pribadi yang terbuka pasti akan banyak orang baik yang akan menolong anak-anak kita.. 

Usaha & Dukungan

Sebagai bentuk usaha untuk mengejar tumbuh kembang dan ketertinggalan pada anak-anak CdLS, kami melaksanakan tata laksana & beberapa terapi sesuai anjuran ahli medis


Cornelia de Lange Syndrome (CdLS) adalah penyakit genetik langka yang memengaruhi hampir seluruh aspek tumbuh kembang anak. Di Indonesia, kondisi ini masih sering terlambat terdiagnosis karena minimnya informasi.


Hingga saat ini belum ada obat yang menyembuhkan CdLS. Namun dengan tata laksana yang tepat, multidisiplin, dan berkelanjutan, anak dengan CdLS dapat memiliki kualitas hidup yang baik, tumbuh optimal, dan mencapai kemandirian sesuai kemampuannya. Penanganan berfokus pada gejala yang muncul pada setiap individu.


Apa yang Membuat Penanganan CdLS Berbeda?

Anak dengan CdLS biasanya memiliki kombinasi dari:

• Berat lahir rendah dan pertumbuhan yang lambat

• Ciri wajah yang khas (alis menyambung, bulu mata panjang, hidung kecil)

• Kelainan anggota gerak (jari kecil, jari menyatu)

• Gangguan pencernaan berat, terutama GERD

• Keterlambatan bicara, motorik, dan intelektual

• Masalah perilaku seperti cemas berlebih dan perilaku repetitif


Karena itu, satu dokter tidak cukup. Dibutuhkan tim.


1. Tata Laksana Medis: Fondasi Utama

Tim inti yang perlu terlibat: Dokter Anak, Ahli Genetik, Gastroenterologi, Jantung Anak, THT, Mata, Ortopedi, Bedah Anak, Dokter Gigi, dan Dokter Rehabilitasi Medik.


Pemeriksaan wajib yang perlu dijadwalkan:


a. Saluran Cerna - Prioritas Utama

Hampir 90% anak CdLS mengalami GERD. Jika tidak ditangani, GERD menyebabkan penolakan makan, gagal tumbuh, pneumonia aspirasi, dan perilaku melukai diri sendiri. Pemantauan meliputi penanganan refluks, konstipasi kronis, dan skrining malrotasi usus. Operasi mungkin diperlukan untuk hernia atau stenosis pilorus.

b. Jantung dan Ginjal

25% anak CdLS memiliki kelainan jantung bawaan dan 10% memiliki malformasi ginjal. Ekokardiografi dan USG ginjal rutin di awal diagnosis sangat dianjurkan.

c. Pendengaran, Penglihatan, dan Pernapasan

Skrining pendengaran setiap 6-12 bulan, evaluasi mata untuk miopia dan ptosis, serta evaluasi sleep apnea yang sering terjadi pada anak CdLS.


Lakukan pencatatan harian: pola makan, muntah, BAB, tidur, dan kejang. Catatan ini adalah data emas bagi dokter.


2. Tata Laksana Nutrisi dan Tumbuh Kembang

Nutrisi:

Berikan makan dalam posisi semi-tegak 45 derajat dan pertahankan 30 menit setelah makan. Porsi kecil tapi sering. Banyak anak memerlukan kenaikan kalori dan tekstur yang dimodifikasi oleh terapis makan. Jangan memaksa anak makan saat menangis.


Terapi yang harus dimulai sedini mungkin:

• Fisioterapi: Untuk kekuatan otot, duduk, merangkak, berjalan, dan keseimbangan. • Terapi Okupasi: Untuk kemandirian sehari-hari seperti makan dengan sendok, berpakaian, dan regulasi sensori. Anak CdLS sangat responsif terhadap stimulasi taktil dan memori visual. 

Terapi Wicara dan Komunikasi Total: Targetnya bukan hanya bicara. Gunakan pendekatan total: isyarat, PECS(Picture Exchange Communication System) adalah metode komunikasi alternatif yang menggunakan gambar sebagai alat bantu, buku komunikasi, danAAC (Augmentative and Alternative Communication) adalah metode atau alat bantu untuk melengkapi (augmentatif) atau menggantikan (alternatif) ucapan dan tulisan bagi individu yang memiliki kesulitan dalam memproduksi atau memahami bahasa lisan. Program berbasis visual jauh lebih efektif daripada instruksi lisan panjang. 

• Terapi Perilaku dan Psikologis: Rutinitas yang terstruktur, visual schedule, dan transisi yang diprediksi membantu mengurangi kecemasan dan tantrum.  


3. Membesarkan Anak CdLS di Rumah: Strategi Praktis

Membesarkan anak CdLS adalah maraton.


• Prinsip Komunikasi: Gunakan kalimat pendek 2-3 kata, beri jeda 5-10 detik untuk memproses, tatap mata sejajar, dan rayakan setiap usaha komunikasi.

• Prinsip Belajar: Pecah 1 tugas besar menjadi 3-4 langkah kecil. Contoh: "Memakai sepatu" = 1) ambil sepatu 2) duduk 3) masukkan kaki. Gunakan foto nyata, bukan hanya kata-kata.

• Prinsip Keamanan: Banyak anak CdLS memiliki ambang nyeri yang tinggi dan tidak takut bahaya. Amankan lingkungan rumah, gunakan pengaman sudut, dan pengawasan ekstra di luar rumah.

• Prinsip Pendidikan Inklusif: Anak CdLS berhak mendapatkan pendidikan inklusif. Koordinasikan dengan guru untuk modifikasi kurikulum, tempat duduk dekat guru, dan waktu istirahat sensori.


4. Merawat Keluarga yang Merawat

Orang tua adalah terapis utama, namun orang tua juga bisa lelah. Burnout pada pengasuh anak dengan penyakit langka adalah nyata.

• Bergabunglah dengan komunitas. Anda tidak sendirian. CdLS Indonesia hadir untuk pendampingan, advokasi BPJS, akses pemeriksaan genetik, dan dukungan sebaya.

• Bagi peran pengasuhan dengan pasangan dan keluarga.

• Simpan semua dokumen medis dalam satu file terpusat.

• Jangan ragu mencari bantuan profesional jika merasa cemas atau lelah berkepanjangan.  


Harapan Hidup Anak CdLS

Dengan kolaborasi lintas sektor seperti yang didorong oleh Kementerian Kesehatan RI, harapan hidup anak CdLS dapat terus meningkat. Mereka bukan hanya pasien, mereka adalah individu yang meski dengan keterbatasan, dapat menjadi guru tentang ketulusan dan ketangguhan bagi kita semua.


Jika Anda adalah orang tua baru yang baru saja mendapatkan diagnosis CdLS, hubungi kami. Kami di CdLS Indonesia siap mendengarkan dan mendampingi.


Tentang CdLS Indonesia 

adalah foundation pertama dan satu-satunya di Indonesia yang fokus pada pendampingan keluarga dengan Cornelia de Lange Syndrome. Kami menyediakan edukasi, advokasi kesehatan, dan jejaring dukungan keluarga di seluruh Indonesia.


Perkembangan Penanganan Terapi CdLS

CdLS (Cornelia de Lange Syndrome) belum ada obatnya. Semua penanganan bertujuan mengurangi gejala dan membantu anak tumbuh sebaik mungkin. Berikut adalah perkembangan penanganan pada penyintas CdLS:


1. Dulu (sebelum 2018): Dokter menangani masalah satu-satu begitu muncul — misalnya kalau anak sering muntah/refluks, diberi obat lambung; kalau kesulitan makan, dipasang selang makan. Belum ada panduan baku, jadi penanganan berbeda-beda tergantung rumah sakit.


2. Sejak 2018: Para ahli dunia menyusun pedoman resmi pertama yang menyatukan cara penanganan CdLS secara menyeluruh, meliputi:

  • Pemantauan tumbuh kembang rutin dengan grafik khusus CdLS
  • Bantuan makan (kalau perlu, operasi kecil pasang gastrostomi/lubang makan ke lambung)
  • Terapi perilaku (seperti ABA) untuk membantu anak dengan perilaku sulit
  • Alat bantu dengar bila ada gangguan pendengaran
  • Obat kejang bila diperlukan
  • Jadwal pemeriksaan rutin ke berbagai dokter spesialis (tim multidisiplin)
  • Panduan juga mulai memikirkan perawatan untuk pasien yang sudah dewasa, bukan cuma anak-anak


3. 2018–2024: Dokter makin memahami bahwa gejala bisa berbeda tergantung gen mana yang bermutasi. Jadi penanganan mulai lebih "disesuaikan" — anak dengan gen tertentu mungkin butuh penanganan lebih ringan, yang lain lebih intensif.


4. Terbaru (2020–2026): Mulai ada penelitian awal soal obat-obatan yang menyasar ke akar masalah di tingkat sel (seperti antioksidan dan litium), tapi ini masih tahap penelitian, belum jadi pengobatan standar yang bisa dipakai sekarang.


Intinya: Penanganan CdLS terus bergerak dan mengalami kemajuan pesat dari "tambal sulam gejala" → menjadi "panduan lengkap dan terjadwal" → lalu mulai diarahkan sesuai gen penyebab masing-masing anak. Akan tetapi sampai sekarang, fokus utama tetap meringankan gejala dan mendukung tumbuh kembang, bukan menyembuhkan penyebabnya.


Referensi:

  1. Kline AD, et al. "Diagnosis and management of Cornelia de Lange syndrome: first international consensus statement." Nat Rev Genet 19, 649–666 (2018). PMID: 29995837.
  2. Cornelia De Lange Syndrome Treatment & Management — Medscape eMedicine (emedicine.medscape.com/article/942792-treatment), diakses 2025.
  3. Deardorff MA, Noon SE, Krantz ID. "Cornelia de Lange Syndrome." GeneReviews®, update terakhir 15 Okt 2020, NCBI Bookshelf NBK1104.
  4. Gruca-Stryjak K, et al. "Advancing the Clinical and Molecular Understanding of Cornelia de Lange Syndrome: A Multidisciplinary Pediatric Case Series and Review of the Literature." J Clin Med 13(8):2423 (2024).
  5. Yamataka M, et al. "Sinusitis-associated ischemic stroke in an adolescent patient with Cornelia de Lange syndrome." Radiol Case Rep 19(12):5569-5574 (2024).
  6. Cascella M, Muzio MR. "Cornelia de Lange Syndrome." StatPearls, NCBI Bookshelf NBK554584 (2023).
  7. The Consensus Research Library — Cornelia De Lange Syndrome: Symptoms, Types, Causes and Treatment (topics.consensus.app), diakses 2025 — menyebut terapi eksperimental antioksidan dan litium.
  8. de Graaf M, et al. "Successful Growth Hormone Therapy in Cornelia de Lange Syndrome." PMID: 28588001.

Kelompok Dukungan

Beberapa kelompok yang mendukung keberadaan kami :

  • Dokter, perawat, dan terapis
  • SLB, YPAC, Pusat Terapi, Komunitas Difabel dan Relawan Kemanusiaan
  • Perusahaan swasta lokal, perorangan dan komunitas UMKM
  • Xtreme Impact
  • benihbaik.com
  • bukapangan.com
  • Gambaran Brand
  • Media lokal dan pembuat konten
  • Bank Danamon
  • BAZNAS Kota Semarang
  • KADIN  Kota Semarang
  • Klinik Genetika Rumah Sakit Nasional Diponegoro
  • Pemerintah Daerah dan Pusat melalui Kemensos dan Kemenkes
  • World Federation of CdLS Support Groups
  • Cornelia de Lange Syndrome Association (Australasia) Inc (CdLSA)


Melalui pendataan semua kebutuhan anak-anak penyintas CdLS, bantuan yang masuk disalurkan dalam bentuk Nutrisi dan Popok Sekali Pakai sebagai kebutuhan utama mereka dan kebutuhan mendesak lainnya seperti untuk pengobatan, biaya terapi serta untuk pembelian alat bantu kesehatan. 


Alat bantu kesehatan yang  urgent dan sering digunakan penyintas CdLS adalah selang NGT, inkubator bayi, nebulizer, tabung oksigen, suction pump, stroller dll.

"Cornelia de Lange Syndrome adalah salah satu jenis penyakit langka, dari 10.000 jenis lebih jumlah penyakit langka yang ada didunia ini"


Definisi Kondisi Langka

Penyakit disebut langka karena jarang terjadi atau memengaruhi sejumlah kecil orang dalam populasi, dengan definisi bervariasi antar negara (misalnya, < 1 dari 2.000 di Eropa atau < 200.000 di AS). Karakteristik utamanya adalah prevalensi rendah, seringkali disebabkan oleh faktor genetik, dan karena jumlah penyintasnya sedikit, penelitian serta pengembangan obat menjadi sulit dan mahal, membuat banyak pasien kesulitan mendapatkan pengobatan efektif.


Alasan utama penyakit disebut langka:

  • Prevalensi rendah: Hanya memengaruhi sebagian kecil dari populasi umum.
  • Jumlah penyintas sedikit: Meskipun ada ribuan penyakit langka, secara kolektif memengaruhi jutaan orang, tetapi masing-masing penyakit hanya sedikit penyintasnya.
  • Seringkali genetik: Sebagian besar disebabkan oleh mutasi genetik yang diturunkan atau terjadi secara spontan.
  • Tantangan diagnosis: Gejala unik dan beragam seringkali membingungkan dokter, menyebabkan diagnosis yang memakan waktu lama.
  • Tantangan pengobatan: Kurangnya pendanaan dan data medis membuat pengembangan obat (orphan drugs) dan makanan (orphan food) menjadi tidak menguntungkan bagi perusahaan farmasi, sehingga banyak yang belum memiliki obatnya.


Contoh definisi berdasarkan wilayah:

  • Eropa: Kurang dari 1 dari 2.000 orang.
  • Amerika Serikat: Kurang dari 200.000 orang (sekitar 1 dari 1.500).
  • Jepang: Kurang dari 50.000 orang (sekitar 1 dari 2.500).


Menurut Profesor Damayanti Rusli Sjarif (Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia), penyakit disebut langka jika prevalensinya sekitar 1 banding 2.000 populasi atau kurang dari 2.000 pasien dalam populasi tertentu.

Definisi ini sejalan dengan standar internasional, di mana penyakit langka adalah kondisi yang mengancam jiwa atau mengganggu kualitas hidup dan jarang terjadi. Sekitar 50% penyintas penyakit langka di Indonesia adalah anak-anak, dan gejala sering kali muncul sejak dini.


Riset

Cornelia de Lange Syndrome (CdLS) adalah kelainan genetik langka yang memengaruhi berbagai bagian tubuh. Perkembangan pemahaman medis terhadap sindrom ini telah berevolusi dari sekadar pengamatan fisik (fenotipe) menuju pemetaan genetik molekuler yang sangat spesifik.


Berikut adalah periodisasi perkembangan riset CdLS:

1. Periode Penemuan Awal (1916 - 1933)

Pada fase ini, penyakit ini mulai diidentifikasi melalui pengamatan klinis terhadap pasien dengan karakteristik wajah yang serupa dan keterlambatan pertumbuhan.

  • 1916: Dokter Jerman, Winfried Robert Clemens Brachmann, pertama kali mencatat kasus ini. Oleh karena itu, terkadang disebut juga sebagai Sindrom Brachmann-de Lange.
  • 1933: Dokter anak Belanda, Cornelia de Lange, mendeskripsikan dua anak perempuan dengan fitur serupa secara mendetail. Deskripsinya menjadi standar medis primer, sehingga namanya diabadikan sebagai nama sindrom tersebut.


2. Periode Karakterisasi Klinis (1934 - 1990-an)

Fokus riset pada masa ini adalah mendefinisikan spektrum gejala klinis agar diagnosis bisa ditegakkan lebih akurat tanpa bantuan tes DNA (karena teknologi DNA belum memadai).

- Identifikasi Gejala Kunci: Peneliti mulai memetakan ciri khas seperti alis yang menyambung (synophrys), pertumbuhan terhambat, kelainan anggota gerak (limbs), dan gangguan kognitif.

- Pembentukan Organisasi: Berdirinya CdLS Foundation pada tahun 1981 di AS memicu pengumpulan data pasien secara masal untuk riset epidemiologi.


3. Era Terobosan Genetik (2004 - 2012)

Ini adalah masa paling krusial dalam sejarah CdLS, di mana penyebab biologis penyakit ini akhirnya ditemukan.

- 2004: Penemuan gen utama NIPBL pada kromosom 5. Mutasi pada gen ini bertanggung jawab atas sekitar 50-60% kasus CdLS.

- 2006 - 2012: Riset lanjutan menemukan gen-gen lain yang berkaitan dengan kompleks protein cohesin, yaitu SMC1A, SMC3, RAD21, dan HDAC8. Penemuan ini mengukuhkan CdLS sebagai penyakit gangguan fungsional kompleks cohesin (cohesinopathy).


4. Era Presisi dan Konsensus Global (2018 - 2019)

Riset saat ini fokus pada standarisasi perawatan dan pemahaman variasi genetik yang sangat luas (spektrum).

- 2018: Publikasi Konsensus Klinis Internasional pertama untuk CdLS di jurnal Nature Reviews Genetics. Ini merupakan panduan global untuk diagnosis dan manajemen pasien.

- Riset Epigenetik: Ilmuwan mulai meneliti bagaimana mutasi ini memengaruhi ekspresi gen lain selama perkembangan janin.

- Terapi Farmakologi: Eksperimen pada model hewan (seperti zebrafish dan tikus) sedang dilakukan untuk mencari obat yang dapat memperbaiki fungsi jalur protein yang rusak.


5. Era Genomik Pasca-NGS/Precision Medicine (2020 - Sekarang)

Riset terbaru mengidentifikasi 18 individu dengan 15 varian heterozigot pada gen MAU2 dan membuktikan patogenisitasnya melalui analisis fungsional, menjadikan MAU2 sebagai gen penyebab CdLS yang baru dikonfirmasi. Kasus pertama dilaporkan tahun 2020, dan merupakan kasus kedua di dunia, pada anak laki-laki asal China  hal ini memperkuat usulan agar MAU2 dimasukkan ke dalam daftar skrining gen CdLS. 

- Penelitian dengan penekanan khusus pada riset cohesinopathy, yang dilakukan mulai sekitar pertengahan 2010-an hingga sekarang, didukung teknologi trio-WES dan analisis fungsional multi-modal.

- Riset menunjukkan bahwa anak-anak yang mengalami CdLS "akibat perubahan pada gen MAU2 ini umumnya cenderung memiliki gejala yang lebih ringan" dibandingkan mereka yang mengalami mutasi pada gen utama (NIPBL).

Mutasi pada gen MAU2 ini hampir selalu terjadi secara spontan (de novo). Artinya, ini adalah perubahan acak yang terjadi saat pembentukan janin, bukan karena kesalahan orang tua, bukan karena penyakit menular, dan bukan sesuatu yang sengaja diturunkan oleh ayah atau ibu.


Referensi Utama:

1. De Lange, C. (1933). Sur un type nouveau de degeneration (typus Amstelodamensis). Archives de Médecine des Enfants.

2. Krantz, I. D., et al. (2004). Cornelia de Lange syndrome is caused by mutations in NIPBL, the human homolog of Drosophila melanogaster Nipped-B. Nature Genetics.

3. Kline, A. D., et al. (2018). Diagnosis and management of Cornelia de Lange syndrome: first international consensus statement. Nature Reviews Genetics.

4. Boyle, M. I., et al. (2015). The clinical spectrum of Cornelia de Lange syndrome. Expert Opinion on Orphan Drugs.

5. Peng, et al. "Clinical study and genetic analysis of Cornelia de Lange syndrome caused by a novel MAU2 gene variant in a Chinese boy." Molecular Genetics & Genomic Medicine, 2024. PMID: 37962004.
https://onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.1002/mgg3.2318
(versi PMC: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10767608/)
6. Parenti I, et al. "MAU2 and NIPBL Variants Impair the Heterodimerization of the Cohesin Loader Subunits and Cause Cornelia de Lange Syndrome." Eur J Hum Genet. 2012 Mar;20(3):271-6. doi: 10.1038/ejhg.2011.175. PMID: 21934712.

Pathogenic variants in the cohesin loader subunit MAU2 lead to a new Cornelia de Lange Syndrome subtype. PubMed, PMID: 41332805 (2025/2026) — studi utama yang mendeskripsikan 18 individu dengan 15 varian heterozigot MAU2.

https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/41332805/



MOU yang telah dilakukan untuk masa depan yang lebih baik bagi anak-anak penyintas CdLS di Indonesia yaitu dengan :


  • Universitas Katolik Soegijapranata  meliputi : penelitian nutrisi, psikolgi anak dan orang tua, pemberdayaan ekonomi orang tua penyintas
  • Asa Ren : penelitian dan tes genetika yang presisi untuk menegakan Diagnosa, mengetahui Obat & Nutrisi yang tepat juga untuk mengetahui penyakit yang bisa muncul di kemudian hari.
  • KND - Komisi Disabilitas Nasional : kolaborasi dalam peningkatan kesadaran publik tentang CdLS, advokasi kebijakan inklusif, pengembangan dan penguatan mekanisme layanan pendukung, riset & data, serta pemberdayaan penyintas CdLS.
  • Miwa Pattern: mengkampanyekan CdLS melalui produk Fashion hasil karya seni penyintas CdLS
  • Universitas Sanata Dharma Yogyakarta : dalam penjajakan kolaborasi penelitian dengan Fakultas Vokasi untuk kebutuhan Elektromedis
  • Laboratorium Prodia : kolaborasi penelitian dan keanggotaan
  • Lion Club : dukungan pemenuhan nutrisi untuk penyintas CdLS


Buku "Anakku CdLS"


Menemukan Makna di Balik Kelangkaan

Buku ini mengisahkan perjalanan hidup Koko Prabu saat menghadapi kenyataan bahwa putranya Oyik terlahir dengan Cornelia de Lange Syndrome (CdLS). CdLS sendiri merupakan kelainan genetik langka yang memengaruhi perkembangan fisik dan kognitif anak sejak dalam kandungan.


Poin Utama dalam Buku:

  • Perjalanan Emosional: Penulis secara jujur membagikan fase "penolakan" hingga "penerimaan". Pembaca diajak merasakan kebingungan orang tua saat menghadapi diagnosa medis yang asing, serta bagaimana mereka berdamai dengan keadaan.
  • Perjuangan Medis: Koko menceritakan tantangan dalam mencari penanganan medis yang tepat di Indonesia, mengingat minimnya informasi dan tenaga ahli yang mendalami sindrom ini pada masa itu.
  • Pesan Inklusi: Buku ini menekankan bahwa anak dengan kebutuhan khusus bukanlah "beban", melainkan anugerah yang membawa warna dan pelajaran hidup yang mendalam tentang kesabaran dan kasih sayang tanpa syarat.
  • Komunitas & Dukungan: Penulis juga menyinggung pentingnya dukungan keluarga dan komunitas bagi para orang tua yang memiliki anak dengan kondisi serupa agar tidak merasa berjuang sendirian.

 

Buku Ini Sangat Menginspirasi

Buku terbitan Elex Media Komputindo ini menjadi literasi yang sangat berharga di Indonesia karena:

  1. Meningkatkan Kesadaran: Memberikan informasi dasar mengenai ciri-ciri dan penanganan CdLS bagi masyarakat awam.
  2. Sumber Kekuatan: Menjadi "teman curhat" digital bagi orang tua hebat lainnya yang sedang berjuang di jalan yang sama.
  3. Gaya Bahasa Ringan: Meskipun topiknya berat secara medis dan emosional, Koko Prabu mengemasnya dengan bahasa yang mengalir dan mudah dipahami.


"Anakku CdLS adalah bukti bahwa cinta orang tua mampu melampaui batasan medis dan fisik."

4 Momen Penting Komunitas CdLS Indonesia

  • Cornelia de Lange Syndrome (CdLS)
  • adalah kelainan genetik langka yang memengaruhi perkembangan fisik dan kognitif sejak lahir. Di Indonesia, komunitas penyintas dan orang tua hebat di baliknya terus berjuang untuk meningkatkan literasi publik mengenai kondisi ini.
  • Untuk memperkuat solidaritas dan edukasi, ada empat tanggal krusial yang selalu diperingati oleh komunitas CdLS di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Mari kita kenali lebih dalam makna di balik hari-hari penting tersebut.


    1. CdLS Remembrance Day (12 Februari)

    Mengenang Jejak Kasih dan Perjuangan

    Setiap tanggal 12 Februari, komunitas merayakan CdLS Remembrance Day. Hari ini didedikasikan khusus untuk mengenang para penyintas CdLS yang telah berpulang.

    • Tujuan: Memberikan ruang bagi keluarga untuk saling menguatkan, mengenang memori indah, dan menghargai setiap detik perjuangan yang telah dilalui.
    • Makna: Bagi komunitas di Indonesia, hari ini menjadi pengingat bahwa setiap anak, terlepas dari berapa lama mereka hadir di dunia, telah memberikan dampak luar biasa dan cinta yang tak terhingga bagi sekitarnya.

  • 2. Rare Disease Day (29 Februari)

    Suara untuk Mereka yang "Langka"

    Penyakit langka seringkali terabaikan karena jumlah kasusnya yang sedikit. Rare Disease Day  atau Hari Penyakit Langka Sedunia diperingati setiap tanggal 29 Februari (atau hari terakhir Februari di tahun biasa). CdLS merupakan salah satu dari ribuan penyakit langka yang disuarakan pada hari ini.

    • Fokus Utama: Mendobrak stigma, menuntut akses kesehatan yang lebih inklusif, dan mempercepat diagnosis dini.
    • Gerakan di Indonesia: Komunitas CdLS Indonesia biasanya bergabung dengan koalisi penyakit langka lainnya untuk menyuarakan pentingnya fasilitas medis yang memadai dan ketersediaan obat-obatan yatim (orphan drugs).

  • 3. CdLS Awareness Day (Sabtu Kedua di Bulan Mei)

    Membangun Kesadaran Global

    Ini adalah "hari raya" utama bagi para penyintas. Diperingati setiap Sabtu pada minggu kedua bulan Mei, CdLS Awareness Day bertujuan untuk mengedukasi masyarakat luas tentang apa itu Cornelia de Lange Syndrome.

    • Identitas Warna: Identik dengan warna ungu, masyarakat diajak untuk memakai atribut ungu sebagai bentuk dukungan.
    • Edukasi Gejala: Momen ini digunakan untuk mengenalkan ciri khas CdLS, seperti hambatan pertumbuhan, fitur wajah yang unik (alis menyambung), hingga kelainan pada anggota gerak (tangan dan kaki).
    • Pesan Utama: "Reaching Out, Changing Lives". Melalui kesadaran yang tinggi, diagnosis bisa dilakukan lebih cepat sehingga intervensi medis dan terapi dapat diberikan secara optimal.

  • Mengapa Peringatan Ini Penting?

    Mendukung hari-hari besar ini bukan sekadar perayaan seremonial. Bagi keluarga penyintas di Indonesia, ini adalah upaya untuk:

    1. Menghilangkan Isolasi Sosial: Orang tua merasa tidak sendirian dalam berjuang.
    2. Mendorong Riset: Semakin dikenal sebuah sindrom, semakin besar peluang adanya riset medis yang mendalam.
    3. Inklusi Sosial: Agar anak-anak dengan CdLS mendapatkan hak pendidikan dan sosial yang setara tanpa diskriminasi.

       4. Difable Day (Desember)

Peringatan ini resmi ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak tahun 1992 melalui Resolusi Majelis Umum 47/3.

Tujuan utama dari hari ini adalah meningkatkan kesadaran global mengenai pemenuhan hak-hak, kesejahteraan, serta inklusivitas difabel di seluruh aspek kehidupan.


Difable atau dalam bahasa Indonesia ditulis dan dibaca Difabel adalah singkatan dari ”Different Ability People” yang mempunyai makna positif yaitu orang dengan kemampuan yang berbeda dan menghargai potensi dari individu penyintasnya. Bahkan ”Lebih Egaliter”: Istilah ini dinilai lebih setara dan menghargai bahwa setiap manusia pada dasarnya memiliki kemampuan dan keunikan masing-masing, dibanding dengan pengggunaan istilah Disablitas yang berasal dari kata Disability yang mempunyai arti ketidakmampuan.

 

Mengapa Peringatan Ini Penting bagi Keluarga Besar CdLS Indonesia?

Bagi komunitas Cornelia de Lange Syndrome (CdLS) Indonesia, Hari Difabel Sedunia bukan sekadar seremoni, melainkan momentum krusial karena CdLS memang berdampak pada kedifabelan ganda dan kompleks (multiple complex disabilities).


Berikut adalah alasan mengapa hari ini sangat bermakna bagi keluarga anak dengan CdLS:


1. Validasi Dampak Difabelitas Ganda & Kompleks

CdLS adalah kelainan genetik langka yang memengaruhi ekspresi gen kohesin di seluruh tubuh. Kondisi ini menyebabkan anak-anak CdLS mengalami beberapa jenis kedifabelan secara bersamaan (multiple disabilities), antara lain:

    • Difabel Intelektual & Mental: Keterlambatan perkembangan kognitif, keterbatasan kemampuan belajar, serta tantangan perilaku seperti autisme.
    • Difabel Fisik: Malformasi atau kelainan pada anggota gerak tubuh (tangan/lengan yang lebih pendek, kehilangan jari), serta perawakan yang pendek.
    • Difabel Sensorik: Gangguan pendengaran (tuli) dan masalah penglihatan (difabel netra).
    • Gangguan Kesehatan Kompleks: Adanya penyakit jantung bawaan, masalah refluks gastrointestinal (pencernaan), hingga gangguan pernapasan kronis.


2. Panggung untuk Menuntut Hak Pendidikan Inklusi & Medis

Karena dampaknya yang berlapis, anak CdLS membutuhkan penanganan medis multidisiplin (fisioterapi, terapi wicara, okupasi) serta akses ke pendidikan inklusi. Melalui momentum 3 Desember, CdLS Indonesia dapat lebih vokal menyuarakan hak-hak anak CdLS agar mendapatkan kesetaraan tanpa diskriminasi sesuai UU No. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.


3. Meningkatkan Kesadaran Publik (Awareress)

Sebagai salah satu penyakit langka (rare diseases) yang hanya terjadi pada sekitar 1 dari 30.000 kelahiran, CdLS sering kali terlambat didiagnosis di Indonesia akibat minimnya informasi. Hari Difabel menjadi corong untuk mengedukasi masyarakat luas dan tenaga medis agar mengenali karakteristik fisik khas CdLS sejak dini.


4. Ruang Solidaritas & Penguat Keluarga

Merawat anak dengan difabel kompleks membutuhkan energi fisik, mental, dan finansial yang luar biasa dari orang tua. Difable Day menjadi ruang bagi keluarga CdLS untuk saling menguatkan, berbagi strategi pengasuhan, dan merayakan setiap pencapaian sekecil apa pun dari anak-anak hebat mereka.


5. Difable Day menjadi wadah krusial untuk memperkuat solidaritas

Momentum yang tepat untuk bersinergi dengan berbagai komunitas difabel lainnya. Melalui kolaborasi lintas komunitas ini, CdLS Indonesia dapat memperluas jaringan dukungan mereka dan memperjuangkan hak-hak inklusivitas secara lebih massif dan bersama-sama dengan organisasi difabel lainnya.


  • Mari Peduli! 

    Kami, Anda & Kita Semua bisa ikut berpartisipasi dengan menyebarkan informasi ini di media sosial menggunakan tagar #CdLSIndonesia #RareDiseaseDay #AwarenessMatters


Menebar Senyum, Kasih & Harapan untuk Anak-anak Penyintas CdLS


Dampak Positif


Sindrom Cornelia de Lange (CdLS) mungkin masih terdengar asing bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Namun, bagi keluarga dengan anak penyandang CdLS, kehadiran CdLS Indonesia Foundation melalui beberapa akun platform digitalnya telah menjadi mercusuar harapan.


Berikut adalah beberapa aktivitas yang berdampak positif signifikan dari CdLS Indonesia:


1. Meningkatkan Kesadaran Masyarakat (Awareness)

Salah satu dampak paling nyata adalah hilangnya stigma dan meningkatnya pemahaman publik. Melalui kampanye kreatif seperti Extreme Impact (aksi bersepeda lintas kota) yang dilakukan oleh Om Arto Biantoro seorang tokoh “brand di Indonesia” dan beliau juga aktivis kemanusiaan, CdLS Indonesia berhasil menarik perhatian media dan masyarakat luas. Edukasi mengenai ciri fisik dan genetik CdLS membantu masyarakat memahami bahwa kondisi ini bukanlah penyakit menular, melainkan kelainan genetik langka yang membutuhkan empati, bukan simpati semata.

Kolaborasi Kreatif Bersama Tante Mira Hoeng melalui produk fashion Miwa Pattern, untuk CdLS Awareness Day dan pengalangan dana dari hasil karya seni anak-anak penyintas CdLS.

Dan melalui eksposur di platform BenihBaik.com dan potensi dukungan media, Om Andy F. Noya membuat upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap Sindrom Cornelia de Lange dapat tersalurkan lebih luas.


2. Mempercepat Deteksi Dini melalui Teknologi Genomik

CdLS Indonesia tidak hanya bergerak di bidang sosial, tetapi juga merambah ranah sains-medis. Kolaborasi yayasan dengan ASA REN dan beberapa lembaga riset untuk menghadirkan deteksi dini melalui Whole Genome Sequencing (WGS) memberikan dampak luar biasa bagi para orang tua.

Berdampak: Diagnosis yang lebih cepat dan akurat memungkinkan penanganan medis yang lebih tepat sasaran, mengurangi risiko salah diagnosis yang selama ini sering disalahartikan sebagai stunting atau autisme.


3. Ruang Dukungan (Support System) bagi Orang Tua

Mengasuh anak dengan CdLS yang memiliki tantangan fisik dan intelektual yang kompleks tentu tidak mudah. Melalui beberapa akun media sosial, CdLS Indonesia menciptakan komunitas di mana orang tua bisa saling berbagi pengalaman, tips perawatan, hingga dukungan emosional. Kehadiran komunitas ini membuat para orang tua merasa tidak lagi "berjuang sendirian".


4. Advokasi dan Akses Layanan Kesehatan

Kegiatan audiensi dengan Kementrian Sosial, Kementerian Kesehatan, Kantor Staf Presiden, KPAI dan kerja sama dengan berbagai universitas (seperti; Soegijapranata Catholic University, Sanata Dharma) menunjukkan peran aktif yayasan dalam melakukan advokasi. Hal ini berdampak pada terbukanya akses layanan kesehatan yang lebih baik bagi anak-anak CdLS di Indonesia, serta mendorong para ahli (dokter anak, psikolog, ahli gizi) untuk lebih mendalami kasus kelainan langka ini.


5. Pemberdayaan dan Peningkatan Kualitas Hidup

Melalui program-programnya, CdLS Indonesia fokus pada perbaikan kualitas hidup anak-anak CdLS. Mulai dari edukasi tentang terapi perilaku hingga penyediaan alat bantu, setiap kegiatan bertujuan agar anak-anak ini dapat mencapai potensi maksimal mereka meski hidup dengan keterbatasan.

CdLS Indonesia telah bertransformasi dari sekadar komunitas menjadi ekosistem pendukung yang vital. Melalui transparansi dan edukasi di media sosial, membuktikan bahwa dengan dukungan yang tepat, anak-anak dengan penyakit langka tetap memiliki kesempatan untuk hidup lebih baik dan lebih dihargai.


Mari berkolaborasi dan terus dukung perjuangan anak-anak kami penyintas CdLS di Indonesia, dengan mengikuti semua perkembangan kegiatan kami.


Terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak atas semangat, kolaborasi dan dukungannya selama ini.

Salam inklusi & sehat selalu.. 

Silakan hubungi kami 

Untuk Kerjasama, Penelitian & Dukungan bisa melalui Whatsapp atau ke Sekretariat : Jl. Sampangan Baru III/B12, Bendan Ngisor, Semarang,

Jawa Tengah 50233

Mau tanya apa saja soal Sindrom Cornelia de Lange?

Mulai dari Deteksi Dini, Kesehatan, hingga Tumbuh Kembang, kami siap membantu..!